Monday, June 22, 2020
PT Rifan - Emas Diramal Capai US$2.000/TOZ
PT RIFAN BANDUNG - Analis bank investasi asal Amerika Serikat (AS) Goldman Sachs memproyeksikan harga emas dunia masih akan melanjutkan reli kenaikan hingga akhir tahun ini di tengah kekhawatiran terjadinya penurunan nilai (debasement) emas dan melemahnya kurs dolar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia.
Harga logam mulia diperdagangkan di atas level US$ 1.736/troy ons pada Jumat sore waktu Eropa, naik sekitar 0,8%. Data Kitco mencatat, pada perdagangan Jumat tadi malam pukul 22.40 WIB, harga emas spot diperdagangkan di level US$ 1.747/troy ons.
Harga emas juga mulai stabil dalam 2 bulan terakhir karena ada harapan pandemi Covid-19 dapat ditahan sehingga menurunkan risiko penyebaran yang sudah terjadi sejak Maret lalu.
Dalam sebuah catatan pada Jumat, analis Goldman Sachs yakni Jeff Currie, Mikhail Sprogis, dan Daniel Sharp memperbaharui perkiraan harga emas dunia untuk periode 3, 6 dan 12 bulan ke depan masing-masing menjadi US$ 1.800/1.900/2.000/troy ons dari prediksi sebelumnya US$ 1.600/1.650/1.800/troy ons.
Bank investasi yang didirikan di New York pada 1869 ini juga mempertahankan rekomendasi perdagangan emas dalam jangka panjang hingga Desember 2020.
Tiga analis Goldman ini, dalam ulasannya menilai ada sejumlah sentimen positif bagi harga emas yakni permintaan koin emas secara tahun berjalan (year to date) sudah naik 30%, total berat emas yang menjadi aset dasar (underlying) dalam ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa, exchange traded fund) juga naik 20% secara tahun ke tahun (yera on year) dan ada permintaan emas secara laten bertambah.
Namun, memang ada tekanan, yakni peningkatan sentimen risiko di pasar negara maju karena negara-negara dengan ekonomi besar mulai mencabut status lockdown (karantina wilayah) mereka.
Di sisi lain, pasar negara berkembang kemungkinan butuh waktu lebih lama untuk pulih, yang dapat menyebabkan ekspektasi adanya koreksi harga emas.
Namun, seperti yang telah kami utarakan sebelumnya, permintaan investasi emas cenderung tumbuh ke tahap awal pemulihan ekonomi, didorong oleh kekhawatiran penurunan nilai dan tingkat riil yang lebih rendah.
Pada perdagangan Sabtu ini, harga emas logam mulia acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) akan jadi perhatian ke level berapa. Jumat kemarin (19/6/2020), harga emas turun 0,59% atau sebesar Rp 5.000 menjadi Rp 837.120/gram dari perdagangan Rabu di level Rp 842.120/gram.
Berdasarkan pencatatan data harga Logam Mulia di gerai Jakarta Gedung Antam di situs logammulia milik Antam, harga tiap gram emas Antam ukuran 100 gram turun 0,59% berada di Rp 83,712 juta dari harga kemarin Rp 84,212 juta per batang.
Emas Antam kepingan 100 gram lumrah dijadikan acuan transaksi emas secara umum, tidak hanya emas Antam. Harga emas Antam di gerai penjualan lain bisa berbeda, di sisi lain, harga beli kembali (buyback) emas Antam juga turun Rp 6.000 dan ditetapkan pada Rp 784.000/gram, dari posisi kemarin Rp 790.000/gram. Harga itu menunjukkan harga beli yang harus dibayar Antam jika pemilik batang emas bersertifikat ingin menjual kembali investasi tersebut - PT RIFAN
Sumber : cnbcindonesia.com
Friday, June 19, 2020
Rifan Financindo Berjangka - Proyeksi Harga Emas Di Tengah Sentimen Kasus Covid-19 Dan Rapat Bank Sentral
RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas bergerak cenderung mendatar pada awal perdagangan Kamis di tengah sentimen bertambahnya kasus virus corona dan rapat
dua bank sentral.
Pada perdagangan Kamis pukul 10.18
WIB, harga emas spot turun 0,08 persen menjadi US$1.725,5 per troy
ounce. Adapun, emas Comex kontrak Agustus 2020 koreksi 0,05 persen
menuju US$1.734,7 per troy ounce. Sementara itu, indeks dolar AS turun
0,07 persen menuju 97,094.
Laporan Monex Investindo Futures
menyebutkan harga emas bergerak stabil pada sesi perdagangan Asia hari
Kamis di tengah investor yang masih khawatir terhadap kemungkinan
perlambatan pemulihan ekonomi global karena kenaikan jumlah kasus
Covid-19 di Amerika Serikat dan Tiongkok.
Pada pukul 10:09 WIB, harga emas terpantau bergerak flat di level
US$1725,90, dengan level terendah di US$1723,68 dan level tertinggi di
US$1730,06.
Beijing telah membatalkan sejumlah penerbangan,
menutup sekolah-sekolah dan memblokir beberapa lingkungan, sebagai upaya
untuk mencegah wabah virus corona. Kota ini telah mengkonfirmasi 21
kasus baru Covid-19 pada tanggal 17 Juni.
Sementara itu dari AS
dikabarkan, hanya beberapa hari sebelum kampanye Presiden AS Donald
Trump, kasus virus Covid-19 melonjak di Oklahoma, Texas, Arizona, dan
berbagai tempat lainnya.
Lonjakan kasus virus Covid-19 dan prospek lockdown kembali telah
menurunkan minat investor terhadap aset berisiko. Namun, kini penguatan
harga emas terbatas karena potensi menguatnya dolar AS.
Harga
emas mendatar juga disebabkan sikap hati-hati pasar menjelang
pengumuman kebijakan moneter dari dua bank sentral dunia hari ini, yaitu
Swiss National Bank (SNB) dan Bank of England (BoE).
Swiss
National Bank (SNB) dijadwalkan akan merilis kebijakan moneter
terbaru-nya pada jam 14:30 WIB, dengan fokus pasar pada peluang
perubahan kebijakan moneter negara tersebut.
Sentimen itu dapat berimbas pada mata uang negara-negara lain,
terutama negara Eropa, yang banyak menyimpan sebagian cadangan devisa
mereka di Swiss, Bank of England (BoE) dijadwalkan merilis hasil
rapat Monetary Policy Committee pada jam 18:00 WIB, bila penambahan
stimulus maupun perubahan tingkat suku bunga diumumkan oleh BoE, GBPuUSD
berpotensi bergerak.
Selain kedua mata uang negara tersebut,
kebijakan moneter dari dua bank sentral di Benua Eropa tersebut
berpotensi juga menggerakkan mata uang utama lainnya, membuka peluang
sikap hati-hati pelaku pasar di awal hari ini.
Bila pasar
memandang dolar sebagai aset likuid lebih menarik, dan harga emas
bertahan di bawah level $1750, Harga emas berpeluang turun menguji
support $1712 - $1721, sebaliknya bila aset aman logam mulia lebih
diminati pasar, dan harga naik di atas level $1750, harga emas
berpeluang menguji resisten $1733 - 1745 - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
Sumber : market.com
Thursday, June 18, 2020
Rifan Financindo - Harga Emas Turun, Meskipun Terjadi Peningkatan Kasus Covid-19
RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga
emas turun pada Kamis pagi di mana ada perbaikan atas
perlambatan pemulihan ekonomi global yang berkaitan dengan kasus baru
covid-19 di Amerika Serikat dan Cina.
Beijing menyetujui pembayaran di bandara lokal, menutup
sekolah-sekolah dan memindahkan beberapa wilayah untuk mencegah
penyebaran wabah covid-19. Kota ini mengonfirmasi 21 kasus baru pada 17 Juni.
Harga Emas Berjangka turun tipis 0,04% di $ 1,734,85 per ons menurut data Investing.com pukul 11,17 WIB dan XAU / USD XAU / USD juga naik 0,04% menjadi $ 1,726,34, hanya beberapa hari sebelum kampanye Presiden AS Donald Trump di Tulsa,
kasus-kasus virus baru melonjak di Oklahoma, Texas, Arizona dan di
bagian negara lain.
Bertambahnya kasus global covid-19 dan potensi penggantian baru mengurangi aset terhadap risiko
Sementara itu, Bank
of England memperkirakan akan mengumumkan peningkatan program pembelian
senilai 100 miliar pound ($ 125 miliar) pada pertemuan kebijakan pukul
1100 GMT.
Dari tanah air sampai pukul 08.30 WIB Kamis pagi, harga emas Antam (JK: ANTM ) per gram naik Rp5.000 dari hari Rabu menurut laman Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia. Sebelumnya, harga emas Antam mencapai Rp895.000 dan harga terakhir kini turun ke Rp900.000 - RIFAN FINANCINDO
Sumber : investing.com
Wednesday, June 17, 2020
PT Rifan Financindo Berjangka - Dolar AS Kembali Naik, Harga Emas Global Mengalami Penurunan
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - AS comeback sebagai mata uang yang perkasa di hadapan banyak mata uang. Dolar AS comeback sebagai mata uang yang perkasa di hadapan banyak mata uang. Optimisme global yang ditopang oleh data penjualan ritel AS membuat aset keuangan safe haven itu banyak diburu.
Berbanding terbalik dengan dolar AS, pasar bebas tantangan mulai memangkarkan kilau emas di pasar spot. Dilansir dari RTI, tekanan jual global di pasar spot bergerak tertekan dengan koreksi 0,14% ke level US $ 1,724,25 per ounce.
Antam Tumbang, Emas Global Manfaatkan Peluang! Baca Juga: Dolar AS dan Emas Antam Tumbang, Emas Global Manfaatkan Peluang, senasib dengan emas global, harga emas PT Aneka Tambang (JK: ANTM ) Tbk ( Antam ) juga kembali terdiskon pada perdagangan hari ini.
Harga emas Antam
dibanderol dengan harga Rp895.000 per gram, tuurn Rp3.000 per gram dari
harga perdagangan kemarin yang berada di angka Rp898.000 per gram - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
Sumber : investing.com
Tuesday, June 16, 2020
PT Rifan Financindo - Harga Emas Naik, Dolar AS Melemah, Selasa Pagi
PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga
emas bergerak naik pada Selas pagi setelah berakhir pada
penutupan perdagangan Senin di tengah menurunnya dolar Amerika
Serikat pagi ini.
Sampai pukul 10.04 WIB, harga Emas Berjangka naik 0,64% di $ 1,738,25 per ons setelah ditutup naik 0,58% Senin kemarin dan emas spot XAU / USD menguat 0,34% ke $ 1,730,89 menurut data Investing.com setelah ditutup menurun 0,42% kemarin.
Harga emas turun pada hari Senin bersamaan dengan pergerakan indeks
ekuitas Lantaran terhadap gelombang kedua infeksi virus di dunia, dalam suasana aksi jual kemarin, uang menjadi aset yang menguntungkan
dan itu menantang emas, kami telah memperkirakan
penurunan karena pasar emas tidak mendapatkan banyak stimulus moneter
dari The Fed; tidak ada pemotongan suku bunga tambahan atau pembelian
aset.
The Fed mempertahankan suku bunga mencapai 0,25 persen minggu lalu. Terhadap jumlah mata uang, indeks dolar AS melemah 0,24% di 96,418 menurut data Investing.com hingga pukul 10,03 WIB.
Dari tanah air sampai pukul 08.33 WIB Selasa pagi, harga emas Antam (JK: ANTM ) per gram hingga Rp4.000 dari Senin kemarin menurut laman Unit Pemrosesan Bisnis dan Pemurnian Logam Mulia. Sebelumnya, harga emas Antam mencapai Rp902.000 dan harga terakhir kini turun ke Rp898.000 - PT RIFAN FINANCINDO
Sumber : investing.com
Monday, June 15, 2020
PT Rifan - Pembukaan Mal Angkat Rupiah Ke Rp14.115/Dolar AS

PT RIFAN BANDUNG - Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.115 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Senin sore. Posisi ini menguat 18 poin atau 0,13 persen dari Rp14.133 pada Jumat, Sementara
kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate
(Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.228 per dolar AS atau menguat
dari Rp14.257 per dolar AS pada Jumat.
Di kawasan Asia, rupiah memimpin penguatan mata uang dari dolar AS. Namun, rupiah hanya menguat bersama yen Jepang 0,07 persen.
Lalu dolar Hong Kong stagnan. Sedangkan won Korea Selatan melemah 1,01 persen, peso Filipina minus 0,35 persen, ringgit Malaysia minus 0,26 persen, rupee India minus 0,24 persen, baht Thailand minis 0,16 persen, yuan China minus 0,14 persen, dan dolar Singapura minus 0,11 persen.
Di kawasan Asia, rupiah memimpin penguatan mata uang dari dolar AS. Namun, rupiah hanya menguat bersama yen Jepang 0,07 persen.
Lalu dolar Hong Kong stagnan. Sedangkan won Korea Selatan melemah 1,01 persen, peso Filipina minus 0,35 persen, ringgit Malaysia minus 0,26 persen, rupee India minus 0,24 persen, baht Thailand minis 0,16 persen, yuan China minus 0,14 persen, dan dolar Singapura minus 0,11 persen.
Mata uang utama negara maju bergerak variasi. Dolar Australia melemah
0,66 persen, rubel Rusia minus 0,5 persen, dan dolar Kanada minus 0,4
persen.
Namun, franc Swiss menguat 0,16 persen, euro Eropa 0,07 persen, dan poundsterling Inggris 0,01 persen, analis sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah didukung oleh pembukaan aktivitas ekonomi di pusat perbelanjaan dan perkantoran di kawasan DKI Jakarta. Hal ini dalam rangka masa transisi dari PSBB ke tatanan hidup baru (new normal).
Namun, franc Swiss menguat 0,16 persen, euro Eropa 0,07 persen, dan poundsterling Inggris 0,01 persen, analis sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah didukung oleh pembukaan aktivitas ekonomi di pusat perbelanjaan dan perkantoran di kawasan DKI Jakarta. Hal ini dalam rangka masa transisi dari PSBB ke tatanan hidup baru (new normal).
Ini
menambah kepercayaan tersendiri bagi pelaku pasar, sehingga ada harapan
roda ekonomi akan kembali berputar dan ekonomi stabil, sehingga arus
modal asing akan kembali masuk ke pasar dalam negeri, kata Ibrahim.
Selain itu, mata uang Garuda juga terkena sentimen surplus neraca
perdagangan Indonesia sebesar US$2,09 miliar pada Mei 2020, meski ekspor
dan impor anjlok. Setidaknya, hal ini memberi indikasi perbaikan bagi
neraca perdagangan.
Dari global, pergerakan mata uang di dunia hari ini dipengaruhi oleh kekhawatiran pasar terhadap gelombang kedua pandemi virus corona atau covid-19. Khususnya di China, Eropa, maupun AS.
Hal ini tak lepas dari laporan pertambahan kasus corona baru di negara-negara tersebut yang mencetak rekor baru. Kasus meningkat saat pemerintah mendorong pembukaan akivitas ekonomi masyarakat, kekhawatiran tumbuh karena wabah dapat menyebabkan kerusakan yang lebih besar pada ekonomi global
Dari global, pergerakan mata uang di dunia hari ini dipengaruhi oleh kekhawatiran pasar terhadap gelombang kedua pandemi virus corona atau covid-19. Khususnya di China, Eropa, maupun AS.
Hal ini tak lepas dari laporan pertambahan kasus corona baru di negara-negara tersebut yang mencetak rekor baru. Kasus meningkat saat pemerintah mendorong pembukaan akivitas ekonomi masyarakat, kekhawatiran tumbuh karena wabah dapat menyebabkan kerusakan yang lebih besar pada ekonomi global
Sentimen
lain datang dari kebijakan pemerintah Inggris untuk tidak memperpanjang
batas waktu pembicaraan persoalan dagang dengan negara-negara di Uni
Eropa. Beberapa investor khawatir ekonomi Inggris akan mengalami
kontraksi sehingga akan terjadi kekacauan ekonomi jika tidak menyetujui
persyaratan baru dengan Uni Eropa.
Di sisi lain, bank sentral Inggris, Bank of England akan mengadakan rapat bulanan. Pasar berekspetaktasi BoE akan meningkatakn stimulus quantitative easing sekitar 100 miliar poundsterling Inggris - PT RIFAN
Sumber : cnnindonesia.com
Friday, June 12, 2020
Rifan Financindo Berjangka - Harga Emas Bisa Berfluktuasi, Apa Penyebabnya?
RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Emas sudah dikenal sejak zaman dahulu sebagai barang berharga, jadi perhiasan, alat ganti dan penyimpan kekayaan. Di masa kini, logam mulia berwarna kuning ini juga dilihat sebagai instrumen investasi.
Logam mulia selalu dianggap sebagai aset safe haven , atau investasi aman yang pantas diharapkan tetap. Bahkan, harga emas bisa naik lebih tinggi dari tingkat pengembalian, Akan tetapi, sebagai barang perdagangan, harga emas juga bisa naik-turun atau berfluktuasi di pasar global. Tentu saja, ada sebagian faktor yang bisa menggerakkan harga logam mulia ini, Apa saja faktor penyebab naik turunnya harga emas? Berikut ulasannya.
1. Produksi Emas
Produsen utama dalam pertambangan emas di seluruh dunia antara lain
Cina, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Australia, Rusia dan Peru. Produksi emas dunia akan selalu mengutamakan harga emas, sesuai dengan teori penawaran dan permintaan.
Bila ditambang terus-menerus, emas yang mudah diambil di bagian atas lapisan bumi tentu berkurang. Penambang pun harus lebih dari emas.
Menambah, Menurunkan risiko berbahaya akan meningkat Singkatnya, akan ada lebih mahal untuk mendapatkan emas yang lebih sedikit. Hal ini menambah biaya produksi emas, yang akhirnya diperoleh harga emas.
2. Perubahan Kurs
Secara umum, emas bergerak berlawanan (berkorelasi negatif) dengan dolar AS. Komoditas ini dijual dengan denominasi dolar, maka kompilasi mata uang AS naik, harga emas jadi lebih mahal. Kemudian, terjadi aksi jual yang membuat harga turun.
Malah, pelemahan kurs dolar AS biasanya naik harga emas dunia.
Para investor memilih untuk membeli dolar milik mereka dan membeli emas
yang dibeli memberikan nilai aset dari tergerusnya nilai uang kertas.
Ketika terjadi karena ekonomi seperti pada saat resesi global, dolar AS
menurun dan ini menyebabkan investasi emas meningkat baik dalam bentuk
fisik maupun perdagangan yang non-fisik.
Buat investor Indonesia yang menggunakan mata uang rupiah, ekonomi
negara juga bisa menjadi salah satu faktor yang menolak kurs dan membuat
emas terlihat lebih mahal.
3. Suku Bunga
Tingginya suku bunga membuat orang lebih suka menyimpan uangnya di deposito, dari emas. Diharapkan, kompilasi suku bunga naik atau turun maka membuat harga emas naik karena naik permintaan, Emas memang tidak menghasilkan bunga, keuntungannya didapat dari naiknya harga. Semakin tinggi harga emas, semakin menariklah logam ini.
Namun, logistik tidak berjalan di Indonesia. Pada masa krisis 1998, pemerintah pernah menaikkan suku bunga karena nilai tukar rupiah yang merosot tajam. Mereka berharap hal itu bisa mendorong kenaikan dolar AS. Meski suku bunga naik, harga emas malah ikut naik karena harganya di pasar masih sesuai pada harga.
4. Cadangan Sentral Bank
Bank-bank sentral di seluruh dunia memegang mata uang kertas dan emas sebagai cadangan devisa ( cadangan devisa ).
World Gold Council telah mengumumkan bank sentral baru-baru ini mulai
membeli emas lebih dari yang mereka beli, yang pertama kali ini terjadi
dalam beberapa babak, Melalui bank sentral melakukan diversifikasi cadangan moneter mereka,
alias pindah dari uang kertas yang telah mereka dikumpulkan dan
dipindahkan ke emas, maka harga emas naik.
Banyak negara di dunia memiliki cadangan yang terdiri dari emas,
termasuk Amerika Serikat, Jerman, Italia, Prancis, Portugal, Yunani dan
wilayah Eropa lainnya. Belum lagi untuk kawasan Asia dengan Cina menjadi pemburu emas terbesar sesuai dengan membumbungnya cadangan devisa mereka.
5. Situasi Politik Dunia
Perang, terutama yang menarik kepentingan AS dan negara Barat, mendesak mengerek harga emas. Kerawanan politik dan sosial membuat orang menyingkir dari investasi untung seperti pasar saham dan memilih emas, sebagai contoh, kenaikan harga pada akhir tahun 2002 dan awal tahun
2003 terjadi penggantian dengan akan memindahkan sekutu ke Irak. Investor beralih dari pasar uang dan saham ke logam mulia meminta emas melonjak tajam.
Strategi Saat Harga Turun
Dalam pembelanjaan terakhir hingga 11 Juni 2020, harga emas murni di
mata uang dolar AS di pasar global terpantau naik 30,39 persen ke level
US $ 1.729,55 per troy ounce, Namun pergerakan harga emas ini tidak selalu menanjak, tetapi bisa turun dalam final terakhir, Contohnya, pada bulan Maret 2020, harga emas turun dari level US $
1,670-an ke level US $ 1,470-an, atau minus sekitar 12 persen. Namun di bulan yang sama, harga emas bisa naik ( rebound ) dan di bulan berikutnya sudah naik level US $ 1,740-an, atau naik 19 persen - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
Sumber : bareska.com
Subscribe to:
Comments (Atom)





