PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas menguat tipis pada perdagangan hari ini, Selasa setelah ambruk. Harga emas bergerak labil seiring adanya aksi
ambil untung dan investor menantikan data inflasi utama minggu ini untuk
petunjuk mengenai kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve
AS tahun ini.
Mengutip Refinitiv, harga emas spot ditutup di posisi
US$2.336,05 per troy ons pada perdagangan Senin. Harganya
ambruk 1,02%. Ambruknya emas berbanding terbalik dengan penguatan pada
Kamis dan Jumat pekan lalu dengan penguatan mencapai 2,2%.
Harga emas mulai membaik pada hari ini. Harga sang logam mulia naik 0,09% menjadi US$2,338,09 per troy ons pada Selasa pukul 06.15 WIB.
Pelaku emas tengah menunggu data-data dari Amerika Serikat (AS) mulai dari indeks harga produsen dan data inflasi April 2024.
Data indeks harga produsen (PPI) akan diumumkan hari ini sementara data inflasi pada Rabu pekan ini.
AS akan mengumumkan data indeks harga produsen (PPI) pada hari ini, Selasa periode April 2024.
Data PPI AS diperkirakan naik sebesar 0,3% pada April 2024 setelah
kenaikan 0,2% pada bulan Maret. PPI inti, tidak termasuk biaya energi
dan pangan, diperkirakan meningkat sebesar 0,2%, sama seperti pada bulan
Maret.
PPI secara tahunan diperkirakan sebesar 2,2% pada April 2024,
meningkat dibanding periode Maret yang menyentuh 2,1%. Sedangkan, PPI
inti diperkirakan konsensus sebesar 2,4% secara tahunan setara dengan
periode Maret.
Ukuran inflasi PPI mencerminkan laju inflasi pada tingkat grosir -
harga yang dibayarkan oleh pelaku usaha untuk barang dan jasa yang
kemudian mereka jual kepada konsumen.
Selain data-data ekonomi AS, petinggi bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) juga bakal membuat pemilik emas cemas. Jerome Powell selaku Ketua Bank Sentral AS, The Fed, akan berpidato pada malam ini pukul 21.00 WIB pada acara Annual
General Meeting, Foreign Bankers' Association, Amsterdam. Publik
menunggu apakah Powell akan memberi sinyal kebijakan ke depan.
Jika pidato Powell masih hawkish maka siap-siap saja harga emas akan merana.
"Ini mungkin merupakan aksi keluar dari pasar emas sebelum
beberapa peristiwa berisiko seperti pidato Ketua Fed Jerome Powell, data
Indeks Harga Produsen (PPI), dan Indeks Harga Konsumen (CPI) yang
semuanya akan keluar minggu ini," kata Phillip Streible, kepala strategi
pasar di Blue Line Futures yang dikutip dari Reuters.
"[Fase] bull emas memiliki alasan kuat untuk khawatir bahwa
Federal Reserve membutuhkan data inflasi yang lebih lemah, tidak hanya
data ketenagakerjaan yang lebih lemah, untuk membenarkan penurunan suku
bunga," kata Tai Wong, pedagang logam independen yang berbasis di New
York.
Logam mulia ini telah naik lebih dari 1% minggu lalu, menyusul
data pekerjaan yang lemah, yang mendukung taruhan penurunan suku bunga
AS tahun ini.
Mayoritas ekonom yang disurvei oleh Reuters sekarang
memperkirakan Fed akan memangkas suku bunga acuan dua kali tahun ini,
dimulai pada bulan September.
Para pedagang saat ini memperkirakan sekitar 63% kemungkinan
penurunan suku bunga pada bulan September, menurut CME FedWatch Tool.
Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya peluang untuk memegang
emas yang tidak menghasilkan bunga.
Fokus pasar minggu ini akan tertuju pada data Indeks Harga
Produsen (PPI) AS yang akan dirilis pada hari Selasa pukul 19.30 WIB,
diikuti oleh data Indeks Harga Konsumen (CPI) yang akan dirilis pada
hari Rabu - PT RIFAN FINANCINDO
Sumber : cnbcindonesia