RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas menguat di sekitar level psikologis 1.800 dolar AS pada akhir
perdagangan Kamis (23/12) atau Jumat (24/12) pagi WIB. Kenaikan harga
emas didukung melemahnya dolar AS dan permintaan terhadap aset-aset
berisiko berkurang di tengah kekhawatiran atas dampak dari penyebaran
cepat varian virus corona Omicron.Kontrak emas paling aktif untuk
pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, naik 9,5 dolar AS
atau 0,53 persen, menjadi ditutup pada 1.811,70 dolar AS per ounce. Di
pasar spot, emas naik 0,4 persen menjadi diperdagangkan di 1.809,89
dolar AS per ounce pada pukul 18.41 GMT.
Sehari sebelumnya, Rabu (22/12), emas
berjangka terangkat 13,5 dolar AS atau 0,75 persen menjadi 1.802,20
dolar AS, setelah tergelincir 5,9 dolar AS atau 0,33 persen menjadi
1.788,70 dolar AS pada Selasa (21/12), dan jatuh 10,3 dolar AS atau 0,57
persen menjadi 1.794,60 dolar AS pada Senin (20/12).
Sebagian besar investor menghabiskan
hari di luar kantor, dengan investor yang tersisa khawatir dengan
meningkatnya jumlah kasus Omicron Covid-19 di Amerika Serikat, sehingga
mendorong kenaikan harga emas."Ini hanya kebisingan pada hari dengan
volume rendah menjelang Natal," kata Daniel Pavilonis, ahli strategi
pasar senior di RJO Futures.
Dia menambahkan bahwa tahun depan
pasti akan baik untuk emas, terutama dengan inflasi yang tinggi
kemungkinan akan bertahan.Menahan kenaikan emas lebih lanjut, indeks
dolar relatif stabil, membuat logam kurang menarik bagi pembeli luar
negeri.
Tetapi greenback mendekati level
terendah satu minggu dan penurunannya baru-baru ini membantu emas tetap
di jalur untuk kenaikan mingguan kecil.Saham global, imbal hasil
obligasi, dan mata uang berisiko semuanya mencapai tertinggi baru-baru
ini pada Kamis (23/12) karena kepercayaan investor meningkat pada
tanda-tanda bahwa Omicron mungkin tidak terlalu parah dari yang
ditakuti, serta data ekonomi AS yang kuat.
"Emas menghadapi resistensi teknis di
1.815 dolar AS dan 1.826 dolar AS, dengan risiko geopolitik di depan
berpotensi menjaga emas tetap didukung, meskipun narasinya masih seputar
tapering," kata Nicholas Frappell, manajer umum global di ABC Bullion.
Awal bulan ini, Federal Reserve AS
mengisyaratkan target inflasinya telah terpenuhi dan membuka jalan bagi
kenaikan suku bunga tiga perempat poin persentase hingga akhir tahun
2022. Meskipun emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi,
kenaikan suku bunga akan menghasilkan peluang kerugian yang lebih tinggi
memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Investor juga mengawasi perkembangan
seputar kebuntuan Rusia dengan kekuatan Barat atas Ukraina.Logam mulia
liannya, perak untuk pengiriman Maret naik 12,1 sen atau 0,53 persen,
menjadi ditutup pada 22,94 dolar AS per ounce.
Platinum untuk pengiriman Januari naik
6,7 dolar AS atau 0,69 persen, menjadi ditutup pada 975,1 dolar AS per
ounce.Pasar akan ditutup pada Jumat waktu setempat untuk liburan Natal
AS - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
Sumber : republika.co.id