RIFANFINANCINDO BANDUNG - Rupiah kembali melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Buktinya siang ini pukul 11.32 WIB berdasarkan data perdagangan Reuters, dolar AS berada di level Rp 14.600.
Menurut Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam kondisi tersebut dikarenakan sentimen positif yang berganti menjadi sentimen negatif.
Sebab, kata Pieter, sebelumnya penguatan rupiah dipengaruhi berbagai berita bagus mulai dari kemenangan Partai Demokrat di Pemilu paruh waktu AS hingga perkiraan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga. Hal itu mendorong investor kembali masuk ke Indonesia.
"Bulan November cukup banyak good news di global mulai dari kemenangan Demokrat di Pemilu sela AS, hingga gencatan senjata perang dagang AS dan China. Sementara itu, perkiraan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga serta penurunan harga minyak mentah menjadi good news untuk kondisi domestik," jelasnya kepada detikFinance, Rabu (12/12/2018).
"Berbagai perkembangan itu memunculkan sentimen positif bagi investor asing untuk kembali masuk ke pasar negara emerging termasuk Indonesia," sambung dia.
Namun, ternyata hal tersebut tak bertahan lama karena terjadi sentimen negatif. Hal itu pun membuat investor ragu dan menarik modal asingnya dari pasar Indonesia sehingga menyebabkan rupiah terdepresiasi.
"Tapi penguatan yang disebabkan aliran hot money ini sangat rentan. Ketika good news berganti bad news dan sentimen positif investor asing berakhir, aliran modal asing juga terhenti atau bahkan berbalik keluar. Kondisi ini lah yang terjadi selama beberapa hari di awal Desember ini yang menyebabkan rupiah kembali melemah," papar dia.
Piter menjelaskan, nilai tukar rupiah akan terus mengalami ketidakpastian karena saat ini pasar Indonesia masih dipengaruhi oleh investor asing.
"Selama pergerakan rupiah masih lebih banyak digerakkan oleh keluar masuknya hot money, rupiah akan terus volatile," jelas dia.
Sementara itu, pengamat INDEF Bhima Yudishtira mengatakan pelemahan rupiah dikarenakan sentimen negatif, seperti isu perang dagang, keputusan OPEC memangkas biaya produksi.
"Potensi memanasnya trade war masih ada meskipun otoritas Kanada sudah lepaskan CFO Huawei. Harga minyak fluktuatif pasca keputusan OPEC pangkas produksi. Pelaku pasar menunggu episode berikutnya dari Brexit sehingga ciptakan instabilitas di pasar keuangan Eropa. Pada intinya seminggu terakhir investor asing menahan masuk ke emerging market," tutup dia.
sumber : finance.detik.com
baca juga :
PT RIFAN FINANCINDO | Sosialisasi Perdagangan Berjangka Harus Lebih Agresif: Masih Butuh Political Will Pemerintah
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Rifan Financindo Berjangka Gelar Sosialisasi Cerdas Berinvestasi
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG | PT Rifan Financindo Berjangka Buka Workshop Apa Itu Perusahaan Pialang, Masyarakat Harus Tahu
RIFAN FINANCINDO | Kerja Sama dengan USU, Rifan Financindo Siapkan Investor Masa Depan
PT RIFAN | Bursa Berjangka Indonesia Belum Maksimal Dilirik Investor
RIFANFINANCINDO | Rifan Financindo Intensifkan Edukasi
RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Berburu keuntungan berlimpah melalui industri perdagangan berjangka komoditi
RIFAN | Rifan Financindo Optimistis Transaksi 500.000 Lot Tercapai
PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Sharing & Diskusi Perusahaan Pialang Berjangka PT. RFB
PT. RIFAN | PT Rifan Financindo Berjangka Optimistis PBK Tetap Tumbuh di Medan
RIFAN BERJANGKA | Bisnis Investasi Perdagangan Berjangka Komoditi, Berpotensi tapi Perlu Kerja Keras
PT. RIFAN FINANCINDO | JFX, KBI dan Rifan Financindo Hadirkan Pusat Belajar Futures Trading di Kampus Universitas Sriwijaya
PT RIFANFINANCINDO | RFB Surabaya Bidik 250 Nasabah Baru hingga Akhir Tahun
PT RFB | PT RFB Gelar Media Workshop
PT RIFANFINANCINDO BERJANGKA | Mengenal Perdagangan Berjangka Komoditi, Begini Manfaat dan Cara Kenali Penipuan Berkedok PBK
RFB | RFB Masih Dipercaya, Transaksi Meningkat
No comments:
Post a Comment