PT RIFAN BANDUNG - Harga emas kembali terbang pekan ini meskipun melemah pada perdagangan kemarin. Harga
emas di pasar spot pada perdagangan kemarin, Jumat ditutup
di posisi US$ 1.979,86 per troy ons. Harganya melemah tipis 0,05%.
Secara keseluruhan, harga emas melambung 2,23%. Penguatan ini
menjadi pembalikan arah setelah emas ambruk dalam dua pekan sebelumnya,
Kenaikan emas sebesar 2,23% dalam sepekan juga menjadi yang terbaik dalam empat pekan terakhir.
Ada potensi besar emas terus rally ke depan tetapi saat ini
emas memang perlu melemah sedikit sebelum rally berikutnya. Emas sedang
mencoba melewati level US$ 2.000 per troy ons," tutur Everett Millman,
analis dari Gainesville Coins, kepada Reuters.
Harga emas terbang ditopang sejumlah faktor mulai dari
melandainya inflasi Amerika Serikat (AS), perayaan Dilwali di India,
serta tingginya permintaan dari China.
1. Inflasi AS
Seperti diketahui, inflasi AS melandai ke 3,2% (year on year/yoy) pada Oktober 2023, dari 3,7% (yoy) pada September 2023.
Melandainya inflasi diikuti dengan melemahnay sejumlah
indikator ekonomi lainnya mulai dari indeks harga produsen (PPI),
penjualan ritel, hingga naikya klaim pengangguran.
Indeks harga produsen AS terkontraksi 0,5% (month to month/mtm) pada Oktober 2023. Kontraksi ini adalah yang pertama sejak Mei dan terbesar sejak April 2020.
Secara tahunan (yoy), harga produsen naik 1,3% dari Oktober
2022, melandai dari 2,2% pada September 2023 dan menjadi kenaikan
terkecil sejak Juli.
Data penjualan ritel AS juga menunjukkan tren pelemahan. Secara
bulanan (mtm), penjualan ritel AS terkontraksi 0,1% pada Oktober 2023,
menjadi kontraksi pertama dalam tujuh bulan terakhir.
Secara tahunan, penjualan ritel juga melandai menjadi 2,5% pada Oktober 2023, terendah dalam empat bulan terakhir.
Pengajuan tunjangan pengangguran naik 13.000 menjadi 231.000
untuk pekan yang berakhir 11 November, Departemen Tenaga Kerja
melaporkan pada hari Rabu waktu Indonesia. Angka tersebut merupakan
tertinggi dalam tiga bulan.
Data-data tersebut semakin menegaskan jika inflasi AS memang
sudah mendingin sehingga membawa harapan bank sentral AS The Federal
Reserve (The Fed) akan segera melunak.
Perangkat CME FedWatch tool menunjukkan 100%
pelaku pasar melihat The Fed masih akan menahan suku bunga pada Desember
mendatang. Artinya, hingga akhir tahun suku bunga masih berada di level
5,25-5,50%.
Emas sangat sensitive terhadap sentimen suku bunga. Jika suku
bunga ditahan maka dolar AS dan imbal hasil US Treasury akan melandai.
Keduanya berimbas positif ke emas karena membuat emas semakin
terjangkau dibeli. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga
melemahnya imbal hasil US Treasury akan membuat emas semakin menarik.
2. Perayaan Dilwali
India merayakan Diwali pada Minggu yang melambungkan permintaan emas menjelang setelah perayaan.
"Permintaan emas terus naik munggu ini. Permintaan sebaik tahun lalu
tetapi harganya mampu mencetak rekor," tutur Harshad Ajmera, analis dari
JJ Gold House, dikutip dari Reuters.
Harga emas lokal India dibanderal 60.900 rupee atau sekitar Rp 11,4 juta per 10 gram. Emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di posisi 61.914 ruppee atau Rp 11,52 juta per 10 gram.
3. Permintaan tinggi China
Harga emas di China juga naik menjadi US$ 43-58 per troy ons, dari US$ 40-50 per troy ons.
"Konsumen
China terus melakukan pembelian besar-besaran selama 12 bulan beruntun
yang membuat harga emas naik," ujar Bernard Sin, analis dari MKS PAMP - PT RIFAN
Sumber : cnbc