Beberapa laporan menunjukkan bahwa kekhawatiran akan resesi yang meluas dapat memaksa bank sentral untuk mempertimbangkan kembali kebijakan pengetatan moneter mereka lebih cepat dari yang diperkirakan. Jika skenario ini terwujud, suku bunga riil akan cenderung menurun, yang membuat emas menjadi investasi yang lebih menarik. Investor saat ini menimbang prospek antara inflasi yang persisten dan potensi perlambatan ekonomi yang signifikan, yang masing-masing memiliki implikasi berbeda bagi kebijakan bank sentral dan harga emas. Pasar mencoba untuk mengantisipasi langkah The Fed selanjutnya, dan setiap perubahan narasi bisa memicu pergerakan harga yang tajam.
Di sisi lain, jika bank sentral memilih untuk tetap agresif dalam memerangi inflasi dengan mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama, ini dapat menekan harga emas. Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas, yang tidak memberikan bunga atau dividen. Oleh karena itu, data inflasi yang akan datang dan pernyataan dari bank sentral akan sangat krusial dalam menentukan arah emas berjangka dalam jangka pendek hingga menengah. Para trader bersiap untuk volatilitas yang lebih tinggi menjelang pengumuman kebijakan moneter penting.
Namun, faktor-faktor pendukung lain seperti ketidakpastian geopolitik dan permintaan safe haven yang berkelanjutan dapat menjadi penopang harga emas meskipun ada tekanan dari kebijakan moneter. Keseimbangan antara faktor-faktor ini akan menentukan lintasan harga emas berjangka. Para investor disarankan untuk memantau dengan cermat perkembangan makroekonomi dan pernyataan dari para pembuat kebijakan untuk mengambil keputusan investasi yang tepat di pasar emas berjangka yang dinamis ini. Potensi divergensi kebijakan antar bank sentral juga bisa menjadi pemicu pergerakan harga - PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG
sumber : newsmaker.id

No comments:
Post a Comment