PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas dunia naik pada perdagangan akhir pekan lalu. Data ekonomi
di Amerika Serikat (AS) menopang kenaikan harga sang logam mulia.
Harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 2.386,5/troy ons. Naik 0,96% dibandingkan hari sebelumnya.
Namun, kenaikan ini tidak bisa membantu kinerja harga emas sepanjang
pekan lalu. Secara mingguan, harga emas membukukan koreksi 0,35%.
Maklum, harga komoditas ini sempat anjlok lebih dari 1% pada Kamis
Akhir pekan lalu, US Bureau of Economic Analysis merilis data Personal
Consumption Expenditure (PCE). Ini adalah indikator inflasi yang menjadi
referensi bank sentral Federal Reserve.
Pada Juni, laju inflasi PCE inti (core) berada di 0,2% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Lebih tinggi dibandingkan Mei yang sebesar 0,1% mtm. Namun, angka 0,2% adalah yang kedua terendah sepanjang 2024.
Sementara laju PCE umum pada Juni berada di 0,1%. Juga lebih tinggi
ketimbang Mei yang sebesar 0%. Akan tetapi, realisasi Juni juga menjadi
yang terendah kedua pada tahun ini.
Sedangkan laju PCE inti tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni adalah 2,6%. Sama seperti posisi Mei, sehingga menjadi yang terendah sepanjang 2024.
Adapun laju PCE umum secara tahunan pada Juni ada di 2,5%. Melambat
dibandingkan Mei yang sebesar 2,6% yoy dan menjadi yang terendah sejak
Februari.
“Data yang mixed cenderung melambat ini menandakan tekanan
inflasi dan aktivitas ekonomi mendingin. Ini membuka jalan bagi The Fed
untuk menurunkan suku bunga acuan,” kata Fawad Razaqzada, Analis di
Forex.com, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Berdasarkan CME FedWatch, peluang penurunan suku bunga acuan Negeri
Paman Sam sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5-5,25% pada September
mencapai 87,7%. Kemudian Federal Funds Rate bisa turun 25 bps lagi pada
November, dengan kemungkinan 63%.
Lalu suku bunga acuan bisa turun 25% lagi pada Desember,
probabilitasnya 58.7%. Jadi, Gubernur Jerome ‘Jay’ Powell dan rekan bisa
menurunkan suku bunga acuan 3 kali atau 75 bps sepanjang tahun ini.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi lebih menguntungkan saat suku bunga turun.
Analisis Teknikal
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame),
emas kembali masuk zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index
(RSI) yang sebesar 52,72. RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang
dalam posisi bullish.
Sementara indikator Stochastic RSI ada di 26,42. Masih menghuni area jual (short).
Dalam waktu dekat, harga emas masih berpeluang naik. Target resisten
terdekat ada di US$ 2.391/troy ons. Jika tertembus, maka US$ 2.412/troy
ons berpotensi menjadi target selanjutnya.
Sedangkan target
support terdekat adalah US$ 2.359/troy ons. Penembusan di titik ini bisa membawa harga emas jatuh menuju US$ 2.328/troy ons -
PT RIFAN FINANCINDO
Sumber : bloomberg