Thursday, October 9, 2025

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Imbal Hasil Obligasi AS Melonjak, Menekan Harga Emas Berjangka

 

HARGA EMAS HARI INI - Harga emas berjangka mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan hari ini, setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) melonjak ke level tertinggi baru. Kenaikan tajam imbal hasil obligasi 10-tahun ini dipicu oleh lelang obligasi yang lemah dan sinyal bahwa pemerintah AS mungkin akan meningkatkan penerbitan utang untuk mendanai defisit yang besar.

Kenaikan imbal hasil obligasi meningkatkan biaya peluang memegang emas, karena obligasi menawarkan pengembalian yang lebih tinggi tanpa risiko, yang membuatnya lebih menarik bagi investor. Situasi ini mendorong investor untuk mengurangi posisi emas mereka dan beralih ke obligasi AS.

Selain itu, sentimen pasar obligasi yang lesu ini juga diperburuk oleh beberapa pernyataan hawkish dari pejabat The Fed yang kembali menekankan perlunya menjaga suku bunga tinggi untuk waktu yang lama (higher-for-longer). Kombinasi faktor ini menciptakan angin sakal yang kuat bagi harga emas.

Manajemen RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG menyarankan klien untuk memperhatikan dinamika pasar obligasi. "Hubungan terbalik antara imbal hasil riil obligasi dan harga emas sangat jelas saat ini," kata seorang broker. "Selama imbal hasil obligasi terus naik, emas akan berada di bawah tekanan. Trader harus menyesuaikan strategi mereka di sekitar level-level imbal hasil kunci." RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG.

sumber : newsmaker.id



Wednesday, October 8, 2025

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Emas Berjangka Konsolidasi Setelah Kenaikan Kuat Dipicu Data Inflasi AS


HARGA EMAS HARI INI - Pasar emas berjangka bergerak dalam fase konsolidasi hari ini, setelah kenaikan kuat yang dipicu oleh rilis data inflasi (CPI) AS yang menunjukkan penurunan yang lebih besar dari perkiraan. Meskipun inflasi melambat, trader mengambil waktu sejenak untuk menilai apakah tren perlambatan ini cukup meyakinkan untuk mengubah pandangan hawkish Federal Reserve. Konsolidasi ini mencerminkan kehati-hatian investor setelah pergerakan harga yang cepat, menunggu konfirmasi lebih lanjut dari bank sentral.

Laporan CPI yang menunjukkan pendinginan harga secara fundamental mendukung narasi bahwa The Fed mungkin telah mencapai puncak suku bunganya. Hal ini mengurangi tekanan jual pada emas, yang telah lama ditekan oleh suku bunga tinggi. Kenaikan harga emas setelah rilis CPI adalah reaksi langsung terhadap prospek suku bunga riil yang lebih rendah di masa depan. Namun, pasar tetap skeptis, mengingat The Fed telah berulang kali menyatakan bahwa satu data saja tidak cukup untuk mengubah kebijakan mereka secara drastis.

Volume perdagangan cenderung menurun selama fase konsolidasi ini, karena spekulan jangka pendek menahan diri dari mengambil posisi baru. Pergerakan harga didorong oleh fluktuasi kecil pada dolar AS dan imbal hasil obligasi. Meskipun terjadi jeda, emas masih mendapat dukungan mendasar dari pembelian bank sentral dan risiko geopolitik yang berkelanjutan, yang membatasi potensi penurunan harga secara signifikan.

Prospek jangka pendek untuk emas berjangka akan ditentukan oleh komentar pejabat Federal Reserve pasca-rilis CPI. Jika pejabat The Fed mengonfirmasi bahwa mereka telah melihat cukup bukti untuk bersikap lebih dovish, emas dapat melanjutkan reli. Investor disarankan untuk memprioritaskan manajemen risiko dan menunggu sinyal yang jelas dari bank sentral. Emas kini berada di persimpangan jalan, di mana masa depannya bergantung pada interpretasi The Fed terhadap data inflasi yang baru dirilis ini. - PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG 

sumber : newsmaker.id

Tuesday, October 7, 2025

RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Pengaruh Valuasi Mata Uang Lain Selain Dolar AS pada Harga Emas

 

HARGA EMAS HARI INI - Meskipun Dolar AS adalah mata uang utama yang menentukan harga emas secara langsung, pergerakan mata uang utama lainnya seperti Euro, Yen Jepang, dan Yuan Tiongkok juga secara tidak langsung memengaruhi pasar emas berjangka. Fluktuasi nilai mata uang-mata uang ini terhadap Dolar AS dapat mengubah dinamika permintaan dan penawaran emas di kawasan yang berbeda.

Ketika mata uang utama selain Dolar AS menguat, seperti Euro atau Yen, hal itu membuat Dolar AS melemah. Dolar AS yang lebih lemah secara umum membuat emas menjadi lebih murah bagi investor non-AS, sehingga mendorong permintaan global dan mendukung kenaikan harga emas. Hubungan korelasi terbalik ini seringkali menjadi sinyal kuat untuk beli atau jual.

Selain itu, kebijakan moneter dari bank sentral besar lainnya (seperti Bank Sentral Eropa atau Bank of Japan) juga penting. Jika bank-bank sentral ini mengadopsi kebijakan yang sangat longgar (seperti suku bunga rendah atau program pembelian aset), hal ini dapat memicu kekhawatiran akan devaluasi mata uang tersebut. Emas, sekali lagi, berfungsi sebagai lindung nilai dari devaluasi mata uang, sehingga meningkatkan permintaannya di kawasan tersebut.

Oleh karena itu, menganalisis indeks Dolar AS (DXY) saja tidak cukup. Trader emas berjangka perlu mempertimbangkan gambaran yang lebih luas tentang pasar valuta asing global. Pergeseran kekuatan ekonomi dan kebijakan moneter di Eropa dan Asia dapat menjadi pendorong tersembunyi yang memengaruhi harga emas. RIFAN FINANCINDO BANDUNG

sumber : newsmaker.id

Monday, October 6, 2025

RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Analisis Volume Perdagangan dan Open Interest Kontrak Emas Berjangka

 

HARGA EMAS HARI INI - Selain harga, dua metrik penting dalam analisis pasar emas berjangka adalah volume perdagangan dan open interest. Volume mengukur jumlah total kontrak yang diperdagangkan dalam periode tertentu, menunjukkan tingkat aktivitas dan likuiditas pasar. Open interest adalah jumlah total kontrak yang belum diselesaikan atau masih "terbuka" pada akhir hari perdagangan. Kedua indikator ini digunakan oleh trader profesional untuk mengonfirmasi kekuatan tren harga.

Peningkatan harga emas yang disertai dengan kenaikan volume dan open interest biasanya dianggap sebagai konfirmasi kuat dari tren naik. Ini menunjukkan bahwa modal baru mengalir ke pasar, dan pemain baru ikut berpartisipasi dalam tren tersebut. Sebaliknya, jika harga naik tetapi volume dan open interest menurun, tren tersebut dianggap lemah dan rentan terhadap pembalikan, karena kenaikan tersebut mungkin hanya didorong oleh spekulator jangka pendek.

Jika harga emas turun, dan hal ini disertai dengan volume yang tinggi, itu mengindikasikan tekanan jual yang kuat. Namun, jika penurunan harga terjadi dengan volume yang rendah, itu bisa menunjukkan bahwa hanya ada sedikit minat jual yang kuat, dan pembalikan harga ke atas mungkin segera terjadi. Kombinasi analisis teknikal ini membantu memverifikasi apakah suatu pergerakan harga mencerminkan keyakinan pasar yang mendalam atau hanya kebisingan sesaat.

Dengan demikian, volume perdagangan dan open interest adalah alat konfirmasi yang sangat penting. Para trader cerdas tidak hanya melihat ke mana harga bergerak, tetapi juga seberapa kuat pergerakan tersebut didukung oleh partisipasi pasar. Memahami interaksi antara harga, volume, dan open interest adalah kunci untuk mengukur kesehatan pasar emas berjangka. RIFAN FINANCINDO BANDUNG

sumber : newsmaker.id

Friday, October 3, 2025

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Emas Berjangka Terhambat Suku Bunga Tinggi The Fed


HARGA EMAS HARI INI - Harga emas berjangka terpantau melanjutkan pelemahannya pada perdagangan hari ini, terbebani oleh ekspektasi pasar yang semakin kuat bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya di level yang tinggi untuk waktu yang lebih lama. Suku bunga yang lebih tinggi membuat emas, yang tidak menawarkan imbal hasil, menjadi kurang menarik bagi para investor dibandingkan dengan aset-aset yang memberikan bunga, seperti obligasi pemerintah dan deposito. Hal ini mendorong investor untuk mengalihkan dananya dari emas ke aset-aset lain yang menawarkan imbal hasil lebih baik.

Selain faktor suku bunga, penguatan dolar AS juga turut menekan harga emas. Indeks Dolar AS (DXY) berhasil naik ke level tertinggi dalam beberapa minggu terakhir, didorong oleh data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan. Penguatan dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga mengurangi permintaan. Data-data ekonomi AS yang solid memberikan sinyal bahwa The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter ketatnya, yang pada gilirannya memberikan dorongan bagi dolar AS dan menekan harga emas.

Meskipun demikian, ada beberapa faktor yang berpotensi membatasi penurunan harga emas lebih lanjut. Salah satunya adalah ketidakpastian geopolitik yang masih berlanjut di beberapa kawasan dunia. Konflik bersenjata dan ketegangan politik antara negara-negara besar dapat sewaktu-waktu memicu lonjakan permintaan emas sebagai aset safe haven. Selain itu, potensi perlambatan ekonomi di Tiongkok, sebagai salah satu konsumen emas terbesar di dunia, juga dapat menjadi pemicu kekhawatiran dan mendorong investor untuk kembali melirik emas. Oleh karena itu, para analis pasar memprediksi bahwa harga emas akan bergerak dalam rentang yang sempit, menunggu katalis baru yang dapat mengubah arah pergerakannya.

Ke depan, para pelaku pasar akan mencermati dengan seksama rilis data ekonomi penting yang akan datang, terutama data inflasi dari AS. Jika data inflasi menunjukkan penurunan yang lebih cepat dari perkiraan, hal itu dapat mengurangi tekanan pada The Fed untuk terus menaikkan suku bunga, yang pada gilirannya dapat memberikan dorongan bagi harga emas. Sebaliknya, jika inflasi tetap tinggi, The Fed kemungkinan akan tetap hawkish, dan harga emas berpotensi untuk melanjutkan penurunannya. Investor juga akan terus memantau perkembangan geopolitik global, karena setiap eskalasi dapat dengan cepat mengubah sentimen pasar dan mendorong harga emas kembali naik - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG

sumber : newsmaker.id

Thursday, October 2, 2025

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Permintaan Emas Fisik di Pasar Ritel Global Mencapai Rekor Tertinggi

 

HARGA EMAS HARI INI - Pasar emas berjangka mendapat dukungan tak terduga dari lonjakan permintaan emas fisik di pasar ritel global. Laporan menunjukkan bahwa penjualan koin dan batangan emas di Amerika Utara dan Eropa mencapai rekor tertinggi, mencerminkan kekhawatiran masyarakat umum tentang inflasi dan ketidakpastian sistem perbankan. Permintaan fisik yang kuat ini menjadi "lantai harga" yang kokoh bagi emas.

Para investor ritel, yang sering disebut sebagai "pembeli terakhir", secara masif beralih ke emas sebagai penyimpan kekayaan di luar sistem perbankan tradisional. Kekhawatiran akan devaluasi mata uang dan stabilitas keuangan global mendorong mereka untuk memegang aset berwujud. Fenomena ini menambah lapisan dukungan fundamental di luar permintaan investasi institusional dan bank sentral.

Meskipun permintaan emas fisik ini tidak secara langsung menggerakkan pasar berjangka secepat aliran dana institusional, volume yang besar dari pembelian ritel ini menunjukkan adanya perubahan sentimen jangka panjang. Ini mengindikasikan bahwa kepercayaan pada emas sebagai penyimpan nilai tidak hanya terbatas pada Wall Street, tetapi juga di kalangan masyarakat luas.

Analis di RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG menyoroti pentingnya tren ini. "Permintaan ritel yang kuat menunjukkan bahwa emas dilihat sebagai aset pelindung yang tak tergantikan di masa-masa sulit," kata seorang pakar. "Ini adalah faktor struktural yang akan membantu menopang harga di level-level kunci." RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG

sumber : newsmaker.id

Wednesday, October 1, 2025

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Emas Berjangka Konsolidasi Tipis Menjelang Keputusan Krusial dari Pertemuan OPEC+

 

HARGA EMAS HARI INI - Pasar emas berjangka bergerak dalam rentang perdagangan yang ketat atau konsolidasi tipis hari ini, dengan para investor menunggu hasil dari pertemuan penting organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC+). Keputusan OPEC+ mengenai tingkat produksi minyak mentah memiliki implikasi besar terhadap harga energi global, yang pada gilirannya akan memengaruhi prospek inflasi dan kebijakan moneter bank sentral di seluruh dunia. Emas berada dalam mode "tunggu dan lihat" karena pasar berusaha memprediksi dampaknya pada inflasi.

Jika OPEC+ memutuskan untuk memangkas produksi lebih lanjut, harga minyak akan melonjak, yang secara langsung meningkatkan risiko inflasi global. Skenario ini cenderung menguntungkan emas sebagai lindung nilai inflasi. Sebaliknya, jika OPEC+ mengumumkan peningkatan produksi atau melonggarkan pembatasan, harga minyak mungkin jatuh, mengurangi kekhawatiran inflasi dan memberikan tekanan pada harga emas. Ketidakpastian mengenai keputusan ini membuat trader enggan mengambil posisi besar saat ini.

Volume perdagangan yang relatif rendah mencerminkan kehati-hatian ini. Pergerakan harga emas berjangka hanya didorong oleh fluktuasi kecil pada dolar AS dan imbal hasil obligasi. Meskipun terjadi konsolidasi, emas masih mendapat dukungan dasar dari pembelian fisik bank sentral dan risiko geopolitik yang terus ada di beberapa wilayah utama. Investor jangka panjang mempertahankan posisi mereka, tetapi spekulan jangka pendek menahan diri dari masuk ke pasar yang volatil.

Prospek jangka pendek emas berjangka akan ditentukan segera setelah pengumuman OPEC+. Analis pasar memperkirakan pergerakan harga yang signifikan dan cepat pasca keputusan tersebut. Investor disarankan untuk memprioritaskan manajemen risiko dan menunggu kejelasan dari kebijakan produksi minyak global, karena hal ini akan menjadi katalis utama untuk prospek inflasi dan pergerakan harga emas di sisa kuartal ini. - PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG 

sumber : newsmaker.id