PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas di pasar spot dibuka lebih tinggi pada awal perdagangan
pagi ini, berusaha melanjutkan kenaikan pada perdagangan hari
sebelumnya. Kenaikan harga emas didorong oleh aksi pembelian kembali
para investor emas saat penurunan harga pada pekan lalu dan menanti data
inflasi indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Amerika Serikat (AS)
periode November 2023.
Pada perdagangan Senin harga emas di pasar spot ditutup menguat 0,44% di posisi US$ 2026,99 per troy ons.
Sementara, hingga pukul 06.00 WIB Selasa, harga emas di
pasar spot bergerak lebih tinggi atau naik 0,03% di posisi US$ 2027,52
per troy ons.
Emas menguat pada perdagangan Senin karena para investor emas membeli
emas batangan saat penurunan harga pada Jumat pekan lalu, sementara
fokus mereka beralih pula ke data inflasi Pengeluaran Konsumsi Pribadi
(PCE) AS untuk mendapatkan sinyal mengenai arah suku bunga The Federal
Reserve (The Fed) pasca kecenderungan dovishnya baru-baru ini.
Diketahui, tingkat inflasi Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) tahunan
di AS menurun menjadi 3% pada periode Oktober 2023, tingkat terendah
yang belum pernah terlihat sejak Maret 2021, dari 3,4% pada periode
September 2023, dan sesuai dengan perkiraan.
"Pasar berada dalam mode jeda menunggu data atau berita ekonomi
fundamental utama berikutnya, namun ini adalah mentalitas buy-the-dip di
kalangan pedagang emas dengan postur teknis bullish," ujar Jim Wyckoff,
analis senior di Kitco Metals, dilansir dari Reuters.
Faktor-faktor mendasar yang menjaga pasar emas tetap bertahan adalah
melemahnya dolar AS, kebijakan moneter yang lebih longgar dan beberapa
permintaan safe-haven dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Pekan lalu, The Fed mempertahankan suku bunganya tidak berubah dan
mengindikasikan bahwa pengetatan kebijakan moneter bersejarah
kemungkinan besar akan berakhir karena inflasi turun lebih cepat dari
perkiraan.
Namun Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan bank
sentral AS tidak berkomitmen untuk menurunkan suku bunga dalam waktu
dekat dan cepat.
Para pelaku pasar memperkirakan peluang 69% penurunan suku bunga The Fed pada bulan Maret 2024, menurut alat CME FedWatch.
Imbal hasil obligasi dan suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya peluang untuk memegang obligasi tanpa bunga.
Patokan imbal hasil Treasury AS 10 tahun berada di dekat level
terendah sejak Juli. Pada perdagangan Senin (18/12/2023) imbal hasil
Treasury AS 10 tahun jatuh dalam sebesar 2,55% di level 3,93%.
Para pelaku pasar kini menunggu serangkaian data ekonomi AS, termasuk
laporan indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti bulan November
pada hari Jumat mendatang.
Tren penurunan suku bunga AS sering kali disertai dengan pergerakan
bullish yang lebih kuat pada emas dan tren asimetris ini mungkin akan
terus berlanjut dan menguntungkan emas, terutama pada semester pertama
tahun depan dan harga bisa mencapai rata-rata US$2,050 per troy ons pada
tahun 2024, menurut Intesa Sanpaolo dalam sebuah catatan.
Harga emas sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga AS.
Kenaikan suku bunga AS akan membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury
menguat. Kondisi ini tak menguntungkan emas karena dolar yang menguat
membuat emas sulit dibeli sehingga permintaan turun. Emas juga tidak
menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury membuat
emas kurang menarik.
Namun, suku bunga yang lebih rendah akan membuat dolar AS dan imbal
hasil US Treasury melemah, sehingga dapat menurunkan opportunity cost
memegang emas. Sehingga emas menjadi lebih menarik untuk dikoleksi - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
Sumber : cnbcindonesia