PT RIFAN BANDUNG - Minat investor pada aset safe haven meningkat di tengah pandemi Covid-19 yang tidak kunjung selesai. Alhasil, kuartal III-2020 emas masih menjadi investasi akhir tertinggi.
Harga emas spot di sepanjang kuartal III-2020 tumbuh 22,29%. Kinerja logam mulia Antam juga tumbuh signifikan sebesar 17,64% pada periode yang sama. Kinerja emas ini melebihi kinerja instrumen investasi lain, seperti pasar pengunduran yang memberikan pengembalian sekitar 7%. Sedangkan kinerja pasar saham masih minus.
Perencana Keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto mengatakan, ketidakpastian pandemi berakhir menggiring kapan investor untuk mendapat dana investasi mereka. "Investor butuh keamanan tidak mau investasi di aset berisiko dulu untuk jangka pendek ini dan memilih emas.
Bussines Manager Indosukses Futures Suluh Adil Wicaksono juga mengatakan bahwa pergerakan harga emas yang berada di kisaran US $ 1.900 per ons troi menandakan bahwa investor memang berlari ke emas sebagai aset safe haven .
Eko memandang investor masih bisa memegang kepemilikan emas mereka hingga akhir tahun karena kenaikan harga masih mungkin terjadi meski tidak signifikan. Sementara di 2021 jika vaksin sudah bisa disebarluaskan, Eko memandang harga yang sangat buruk.
Selain itu pelaku pasar juga harus waspada pada hasil pemilihan presiden di Amerika Serikat (AS). "Setelah pemilu AS pasar akan melihat kepastian arah kebijakan AS yang baru, jika sesuai ekspektasi pasar, investor bisa pindah ke aset berisiko dan meninggalkan emas," kata Eko.
Suluh menambahkan, pergerakan dolar AS ke depan yang terkena dampak sentimen pemilu AS, suku bunga acuan The Fed yang masih rendah dan stimulus. "Saat ini bank sentral masih cenderung mendorong harga emas tetap di atas meski belum kembali terbang lagi," kata Suluh.
Bahkan, Suluh memproyeksikan harga emas yang naik ke US $ 2.000 per troi di akhir tahun. Namun, penguatan harga emas bergantung pada hasil pemilu AS dan dampaknya pada dolar AS yang ujungnya mempengaruhi harga emas.
Sementara, penurunan emas di sepanjang September terjadi karena aksi profit taking setelah emas menyimpan rekor harga tertinggi. "Jangan khawatir, sentimen positif yang menyokong harga emas banyak dan emas masih terlalu dini untuk bergerak dalam tren menurun," kata Suluh. Pemberitaan mengenai perkembangan pengadaan vaksin Covid-19 juga tidak membawa emas saat ini turun.
Selain emas, Eko memandang investasi di pasar baik melalui reksadana pendapatan tetap maupun Surat Berharga Negara (SBN) ritel, juga menarik. Menurut Eko di tengah kondisi yang tidak pasti, investor perlu memiliki instrumen investasi yang dapat memberikan kestabilan imbal hasil, salah satu alternatifnya adalah di pasar pengunduran - PT RIFAN
Sumber : kontan.co.id
No comments:
Post a Comment