RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas
menguat pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi), bangkit dari
penurunan tiga hari berturut-turut karena dolar AS yang lebih lemah dan
data ekonomi negatif, sementara investor tetap berharap atas paket
stimulus AS bahkan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam untuk
tidak menandatangani rancangan undang-undang bantuan.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi
COMEX New York Exchange, naik USD7,8 atau 0,42% menjadi ditutup pada
USD1.878,10 per ounce. Sehari sebelumnya, Selasa (22/12/2020), emas
berjangka merosot USD12,50 atau 0,66% menjadi USD1.870,30.
Emas berjangka jatuh USD6,10 atau 0,32% menjadi USD1.882,80 pada
Senin (21/12/2020), setelah turun USD1,5 atau 0,08% menjadi USD1.888,90
pada Jumat (18/12/2020) dan melambung USD31,3 atau 1,68% menjadi
USD1.890,40 pada Kamis (17/12/2020).
"Data ekonomi hanya memperkuat keyakinan bahwa ekonomi sedang
melambat dan itu akan membantu negosiasi dengan stimulus. Sangat mungkin
bahwa beberapa jenis kesepakatan stimulus masih akan dilakukan," kata
Edward Moya, analis pasar senior di OANDA seperti dilansir Antara,
Jakarta, Kamis.
Dolar yang sedikit lebih lemah telah memberikan pergerakan lebih
tinggi untuk emas," kata Moya, menambahkan kesepakatan stimulus dan
perkembangan positif di front Brexit diperlukan untuk lebih memperkuat
kasus bullish emas.
Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa belanja konsumen turun
0,4 persen pada November setelah naik 0,3 persen pada Oktober,
penurunan pertama dalam dalam tujuh bulan. Analis pasar berpendapat
bahwa ini merupakan tanda yang mengkhawatirkan bagi ekonomi AS.
Departemen Perdagangan lebih lanjut melaporkan bahwa pendapatan
pribadi AS merosot 1,1 persen pada November. Kemerosotan yang jauh lebih
dari yang diharapkan.
Meningkatkan daya tarik emas bagi pemegang mata uang lain, indeks
dolar turun 0,3 persen, sementara investor memperkirakan penurunan lebih
lanjut pada 2021.
Trump pada Selasa (22/12/2020) mengancam untuk tidak
menandatangani RUU bantuan virus corona senilai 892 miliar dolar AS,
yang dipandang sebagai penyelamat bagi ekonomi negara yang dilanda
pandemi, dengan mengatakan jumlah bantuan langsung tunai harus
ditingkatkan.
"Bahkan jika Donald Trump menolak untuk menandatangani RUU tersebut,
secara luas diharapkan bahwa Biden akan meloloskannya dan oleh karena
itu kami tidak melihat penurunan apapun pada emas saat ini," kata analis
Natixis, Bernard Dahdah.
Jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim pertama kali untuk
tunjangan pengangguran tetap tinggi tetapi membukukan penurunan tak
terduga minggu lalu.
Emas yang dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan
penurunan nilai mata uang, telah meningkat lebih dari 23 persen tahun
ini, mendapatkan keuntungan dari stimulus besar-besaran dilepaskan
secara global.
Tanda bahaya tentang varian baru virus corona yang sangat menular
telah memicu gelombang larangan perjalanan, menyoroti kekhawatiran atas
pemulihan ekonomi setelah pandemi.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 38,6
sen atau 1,51 persen menjadi ditutup pada 25,921 dolar AS per ounce.
Platinum untuk pengiriman Januari naik 7,7 dolar AS atau 0,76 persen
menjadi menetap di 1.017,1 dolar AS per ounce - RIFAN FINANCINDO
Sumber : okezone.com