Tuesday, October 28, 2025

RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Pengaruh Valuasi Mata Uang Lain Selain Dolar AS pada Harga Emas

 

HARGA EMAS HARI INI - Meskipun Dolar AS adalah mata uang utama yang menentukan harga emas secara langsung, pergerakan mata uang utama lainnya seperti Euro, Yen Jepang, dan Yuan Tiongkok juga secara tidak langsung memengaruhi pasar emas berjangka. Fluktuasi nilai mata uang-mata uang ini terhadap Dolar AS dapat mengubah dinamika permintaan dan penawaran emas di kawasan yang berbeda.

Ketika mata uang utama selain Dolar AS menguat, seperti Euro atau Yen, hal itu membuat Dolar AS melemah. Dolar AS yang lebih lemah secara umum membuat emas menjadi lebih murah bagi investor non-AS, sehingga mendorong permintaan global dan mendukung kenaikan harga emas. Hubungan korelasi terbalik ini seringkali menjadi sinyal kuat untuk beli atau jual.

Selain itu, kebijakan moneter dari bank sentral besar lainnya (seperti Bank Sentral Eropa atau Bank of Japan) juga penting. Jika bank-bank sentral ini mengadopsi kebijakan yang sangat longgar (seperti suku bunga rendah atau program pembelian aset), hal ini dapat memicu kekhawatiran akan devaluasi mata uang tersebut. Emas, sekali lagi, berfungsi sebagai lindung nilai dari devaluasi mata uang, sehingga meningkatkan permintaannya di kawasan tersebut.

Oleh karena itu, menganalisis indeks Dolar AS (DXY) saja tidak cukup. Trader emas berjangka perlu mempertimbangkan gambaran yang lebih luas tentang pasar valuta asing global. Pergeseran kekuatan ekonomi dan kebijakan moneter di Eropa dan Asia dapat menjadi pendorong tersembunyi yang memengaruhi harga emas. RIFAN FINANCINDO BANDUNG

sumber : newsmaker.id

Monday, October 27, 2025

PT RIFAN BANDUNG - Kekhawatiran Resesi Global Dukung Emas Pasca Rilis Data Manufaktur Lemah

 

HARGA EMAS HARI INI - Emas berjangka mendapatkan dukungan signifikan karena rilis data aktivitas manufaktur yang lemah dari beberapa negara maju. Angka Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur yang menunjukkan kontraksi, terutama di Asia dan Eropa, memicu kekhawatiran resesi global. Dalam situasi ketidakpastian ekonomi yang tinggi, emas cenderung dicari sebagai aset safe haven untuk melindungi modal dari risiko pasar yang lebih luas.

Kelemahan di sektor manufaktur global menunjukkan bahwa dampak dari kenaikan suku bunga telah mulai terasa, yang dapat memicu spekulasi bahwa bank sentral akan segera mengakhiri pengetatan moneter mereka. Prospek kebijakan yang lebih dovish akan mengurangi biaya peluang memegang emas, menguntungkan harganya.

Namun, penguatan emas dibatasi oleh data pekerjaan AS yang masih menunjukkan ketahanan. Pasar tenaga kerja yang kuat dapat memberikan Federal Reserve alasan untuk mempertahankan sikap hawkish-nya.

Masa depan harga emas berjangka akan sangat bergantung pada keseimbangan antara kekhawatiran resesi dan kebijakan moneter bank sentral. Jika tanda-tanda perlambatan ekonomi global terus menumpuk, emas kemungkinan akan mendapatkan momentum yang kuat. Investor perlu memantau dengan cermat serangkaian indikator ekonomi global. - PT RIFAN BANDUNG

sumber : newsmaker.id

Friday, October 24, 2025

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed Berikutnya Bayangi Harga Emas

 

HARGA EMAS HARI INI - Harga emas berjangka terpantau melanjutkan pelemahannya hari ini, dibayangi oleh sinyal kuat bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin akan menaikkan suku bunga acuannya sekali lagi. Pernyataan dari anggota dewan The Fed yang menegaskan komitmen mereka untuk membawa inflasi kembali ke target telah memperkuat ekspektasi pasar akan kebijakan moneter yang lebih ketat. Suku bunga yang lebih tinggi secara signifikan meningkatkan biaya peluang investasi emas.

Selain faktor suku bunga, penguatan dolar AS juga turut menekan harga emas. Dolar AS naik ke level tertinggi dalam beberapa waktu, membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Meskipun demikian, ada beberapa faktor yang memberikan batas bawah bagi penurunan harga emas. Salah satunya adalah ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut di berbagai kawasan. Konflik dan ketegangan politik membuat emas tetap relevan sebagai aset safe haven. Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral global juga memberikan dukungan fundamental.

Ke depan, para pelaku pasar akan mencermati dengan seksama laporan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS, yang merupakan ukuran inflasi favorit The Fed. Data ini akan menjadi penentu apakah The Fed akan melanjutkan siklus kenaikan suku bunganya PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG

sumber : newsmaker.id

Thursday, October 23, 2025

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Sentimen Investor Emas Berjangka Membaik di Tengah Krisis Utang AS

 

HARGA EMAS HARI INI - Pasar emas berjangka menunjukkan sentimen yang membaik, di tengah kekhawatiran yang kembali meningkat tentang batas utang dan krisis fiskal di Amerika Serikat. Ketidakmampuan politik di Washington untuk mencapai konsensus mengenai anggaran dan peningkatan batas utang menimbulkan risiko ketidakpastian fiskal, yang mendorong investor untuk mencari aset yang tidak memiliki risiko default.

Meningkatnya defisit fiskal AS dan potensi penurunan peringkat kredit utang negara (debt rating downgrade) bertindak sebagai katalisator kuat bagi harga emas. Emas, sebagai aset yang tidak memiliki kewajiban dan tidak bergantung pada janji pemerintah, dianggap sebagai lindung nilai utama terhadap risiko utang negara.

Investor juga mencermati dampak jangka panjang dari peningkatan utang terhadap nilai Dolar AS. Jika utang AS terus menumpuk, hal itu akan mengikis kepercayaan pada mata uang AS, yang merupakan skenario yang sangat bullish bagi emas.

Analis di RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG menekankan bahwa masalah utang AS adalah pendukung struktural bagi emas. "Krisis utang di negara maju adalah pengingat akan kerapuhan sistem keuangan saat ini," ujar seorang pakar. "Emas adalah pelindung portofolio yang ideal terhadap risiko fiskal ini." RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG

sumber : newsmaker.id

Tuesday, October 21, 2025

RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Korelasi Emas dengan Permintaan Komoditas Industri Lain

 

HARGA EMAS HARI INI - Meskipun emas dianggap sebagai logam mulia dan aset safe haven, pergerakannya kadang-kadang berkorelasi dengan komoditas industri lainnya, seperti tembaga atau perak, terutama pada periode pertumbuhan ekonomi yang kuat. Tembaga, yang sering disebut "Dr. Copper" karena kemampuannya memprediksi kesehatan ekonomi, dan perak, yang memiliki aplikasi industri yang signifikan, adalah komoditas siklis.

Pada saat ekonomi global tumbuh pesat, permintaan industri terhadap tembaga dan perak meningkat. Ini menunjukkan sentimen "risk-on" di pasar komoditas. Emas, meskipun terutama aset non-siklis, dapat naik bersama komoditas ini karena faktor likuiditas global yang tinggi dan kenaikan harga komoditas secara umum yang memicu kekhawatiran inflasi.

Korelasi ini menjadi penting ketika pasar mencoba membedakan antara kenaikan harga emas yang didorong oleh risk-off (ketakutan geopolitik atau resesi) dan kenaikan yang didorong oleh risk-on (pertumbuhan, inflasi, dan likuiditas). Jika emas naik bersama dengan tembaga, itu lebih cenderung mencerminkan ekspektasi inflasi dan pertumbuhan yang tinggi, bukan ketakutan resesi.

Oleh karena itu, menganalisis indeks komoditas industri dapat memberikan wawasan tambahan bagi trader emas berjangka. Korelasi positif atau negatif yang berubah-ubah dengan komoditas lain membantu dalam mengidentifikasi pendorong utama pergerakan harga emas saat ini. RIFAN FINANCINDO BANDUNG

sumber : newsmaker.id

Monday, October 20, 2025

PT RIFAN BANDUNG - Kekuatan Dolar AS Menghambat Emas Pasca Rilis Data Inflasi Zona Euro

 

HARGA EMAS HARI INI - Emas berjangka kembali menghadapi tekanan akibat penguatan dolar AS, meskipun ada rilis data inflasi Zona Euro yang lebih rendah dari perkiraan. Angka inflasi yang melambat di Eropa memicu spekulasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) mungkin akan melunakkan sikap hawkish-nya. Hal ini menyebabkan pelemahan Euro terhadap Dolar AS, yang pada gilirannya membuat emas (dihargai dalam Dolar AS) menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Penguatan dolar AS ini menunjukkan bahwa pasar masih fokus pada perbedaan kebijakan moneter antara AS dan Eropa. Selama The Fed mempertahankan retorika yang lebih hawkish daripada ECB, dolar AS cenderung menguat, menekan harga emas.

Namun, perlambatan inflasi di Zona Euro juga dapat mengurangi kekhawatiran resesi di Eropa, yang dapat memengaruhi sentimen risiko global. Meskipun demikian, tekanan dari dolar AS yang kuat tetap menjadi tantangan utama.

Masa depan harga emas berjangka akan sangat bergantung pada arah kebijakan moneter The Fed dan ECB. Jika The Fed mulai mengisyaratkan jeda, tekanan terhadap emas bisa berkurang. Namun, jika dolar AS terus menguat, emas mungkin akan tetap berada di bawah tekanan. - PT RIFAN BANDUNG

sumber : newsmaker.id

Friday, October 17, 2025

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed Berikutnya Bayangi Harga Emas

 

HARGA EMAS HARI INI - Harga emas berjangka terpantau melanjutkan pelemahannya hari ini, dibayangi oleh sinyal kuat bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin akan menaikkan suku bunga acuannya sekali lagi. Pernyataan dari anggota dewan The Fed yang menegaskan komitmen mereka untuk membawa inflasi kembali ke target telah memperkuat ekspektasi pasar akan kebijakan moneter yang lebih ketat. Suku bunga yang lebih tinggi secara signifikan meningkatkan biaya peluang investasi emas.

Selain faktor suku bunga, penguatan dolar AS juga turut menekan harga emas. Dolar AS naik ke level tertinggi dalam beberapa waktu, membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Meskipun demikian, ada beberapa faktor yang memberikan batas bawah bagi penurunan harga emas. Salah satunya adalah ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut di berbagai kawasan. Konflik dan ketegangan politik membuat emas tetap relevan sebagai aset safe haven. Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral global juga memberikan dukungan fundamental.

Ke depan, para pelaku pasar akan mencermati dengan seksama laporan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS, yang merupakan ukuran inflasi favorit The Fed. Data ini akan menjadi penentu utama apakah The Fed akan melanjutkan siklus kenaikan suku bunganya. - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG

sumber : newsmaker.id