PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas dunia masih terus tertekan akibat penguatan dolar AS.
Namun ketegangan Washington dengan Beijing memberi ruang logam kuning
itu untuk naik pagi ini, Rabu.
Pada 08.40 WIB, harga emas global di pasar spot menguat 0,13% ke US$
1.902,27/troy ons. Kemarin harga emas melorot ke bawah US$ 1.900 dan
ditutup di level US$ 1.899,28/troy ons.
Indeks dolar menguat ke level tertingginya dalam dua bulan dan
menyebabkan harga emas tertekan. Dolar AS dan emas bergerak berlawanan.
Ketika dolar AS menguat, harga emas cenderung melemah. Begitu juga
sebaliknya.
Emas dibanderol dalam greenback, sehingga penguatan mata uang Negeri
Paman Sam itu akan membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang
mata uang lain. Di sisi lain, analis melihat penurunan emas saat ini
juga disebabkan oleh faktor teknikal.
"Ketika kita melihat emas dan saham anjlok bersamaan, artinya
investor butuh uang tunai. Logam mulia selalu menjadi sumber yang
menarik untuk mendapatkan uang tunai. Hal tersebut merupakan faktor yang
sudah berlalu, saat ini kami berpikir faktor dolar dan teknikal"
kata Chris Gaffney dari TIAA Bank kepada Reuters.
"Dolar masih tetap kokoh dan secara fundamental memberatkan harga emas" lanjutnya.
The Fed selaku bank sentral AS juga masih akan mempertahankan stance dovish-nya mengingat pemulihan ekonomi ke depan masih penuh dengan ketidakpastian.
Sang ketua, Jerome Powell menegaskan bank sentral akan melakukan hal
lebih banyak lagi untuk mencapai sasaran inflasi di angka rata-rata 2%
dan mencapai maximum employment di hadapan kongres.
Diskusi seputar kelanjutan stimulus atau bantuan Covid-19 di AS
antara partai republik dan demokrat sejak Agustus lalu juga membuat
harga emas yang kala itu berada di level tertingginya langsung ambles.
Ketiadaan kabar baru seputar stimulus memang memberatkan sang logam kuning. Pasalnya sebagai aset untuk lindung nilai (hedging) kenaikan harga emas dipicu oleh adanya ekspektasi inflasi yang tinggi di masa depan.
Inflasi yang tinggi mencerminkan pasokan uang beredar yang banyak
sehingga mengalami penurunan nilai (depresiasi). Hal ini dapat terjadi
ketika stimulus besar-besaran masih akan digelontorkan oleh pemerintah
maupun bank sentral.
Namun ada sedikit kabar yang membuat harga emas mampu bangkit dari
level di bawah US$ 1.900/troy ons. Apalagi kalau bukan AS-China. Kemarin
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidatonya di hadapan Majelis Umum
PBB soal Covid-19.
Lagi-lagi, mantan taipan properti AS itu menuduh dan menuntut China
atas terjadinya pandemi Covid-19. "Kita harus meminta pertanggungjawaban
bangsa yang melepaskan wabah ini ke dunia, China, "katanya dalam
sambutan yang direkam pada hari Senin dan disampaikan dari jarak jauh ke
Majelis Umum karena pandemi.
"Pemerintah China, dan Organisasi Kesehatan Dunia - yang secara
virtual dikendalikan oleh China - secara keliru menyatakan bahwa tidak
ada bukti penularan dari manusia ke manusia," lanjutnya.
"Belakangan, mereka dengan keliru mengatakan orang tanpa gejala tidak
akan menyebarkan penyakit ... PBB harus meminta pertanggungjawaban
China atas tindakan mereka." pungkas Trump.
Namun Duta Besar China untuk PBB Zhang Jun menolak tuduhan Trump
terhadap China sebagai hal yang "tidak berdasar" dan mengatakan
"kebohongan yang diulang ribuan kali masih merupakan kebohongan."
Ketegangan antara dua raksasa ekonomi global yang terus tereskalasi
dan tak menemukan titik temu membuat prospek pemulihan ekonomi global
menjadi semakin tak menentu. Hal ini merupakan kabar baik untuk emas
sebagai aset safe haven - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
Sumber : cnbcindonesia.com