PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas mengawali perdagangan pekan ini dengan kembali menguat, cenderung melanjutkan pada perdagangan Jumat pekan lalu.
Pada
perdagangan Senin per pukul 06.34 WIB, harga emas di pasar
spot menguat 0,19% di posisi US$ 2.338,16 per troy ons.
Sebelumnya
pada Jumat pekan lalu, harga emas dunia juga ditutup menguat 0,23% di
posisi US$ 2.328,37 per troy ons. Sepanjang pekan lalu, harga emas
global ambles 3,36% secara point-to-point (ptp).
Lanjut menguatnya harga emas global pada pagi hari ini terjadi karena
pasar masih menimbang sikap bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal
Reserve (The Fed) yang masih cenderung hawkish, meski diantara para pejabat The Fed juga masih ada perbedaan pendapat.
Sebelumnya,
Risalah pertemuan kebijakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 30
April -1 Mei 2024 yang dirilis pada Rabu malam atau Kamis dini hari
waktu Indonesia menunjukkan kekhawatiran dari para pengambil kebijakan
tentang kapan saatnya untuk melakukan pelonggaran kebijakan.
Pertemuan
tersebut menyusul serangkaian data yang menunjukkan inflasi masih lebih
tinggi dari perkiraan para pejabat the Fed sejak awal tahun ini. Sejauh
ini, The Fed masih menargetkan inflasi melandai 2%.
"Para pejabat
mengamati bahwa meskipun inflasi telah menurun selama setahun terakhir,
namun dalam beberapa bulan terakhir masih kurang ada kemajuan menuju
target 2%," demikian isi risalah the Fed.
Risalah juga menjelaskan
bahwa "Sebagian pejabat menyatakan kesediaan-nya untuk memperketat
kebijakan lebih lanjut guna mengatasi risiko inflasi yang masih panas".
Beberapa
pejabat The Fed, termasuk Ketua The Fed Jerome Powell dan Gubernur The
Fed Christopher Waller, sejak pertemuan tersebut mengatakan bahwa mereka
masih meragukan langkah selanjutnya yang akan diambil adalah kenaikan
suku bunga.
FOMC dengan suara bulat memutuskan pada pertemuan tersebut untuk
mempertahankan suku bunga acuan pinjaman jangka pendek di kisaran
5,25%-5,5% yang merupakan level tertinggi dalam 23 tahun terakhir.
"Para
peserta menilai bahwa mempertahankan kisaran target suku bunga dana
federal pada pertemuan ini didukung oleh data antar-pertemuan yang
menunjukkan berlanjutnya pertumbuhan ekonomi yang solid," ungkap risalah
tersebut.
Akibat itu, kini peluang penurunan suku bunga kian
menyusut, melansir perhitungan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan
59% penurunan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin (bp) pada
September. Peluang ini turun dari sebelumnya yang mencapai 65,7%.
"Ketika
pasar mulai lesu, tidak diragukan lagi, Anda akan menemukan mereka yang
melewatkan reli akan mengambil apa yang mereka anggap sebagai peluang
untuk berpartisipasi," kata analis independen Ross Norman, dikutip dari Kitco.com.
Di
lain sisi, permintaan emas yang cenderung tinggi dari bank sentral
China (People's Bank of China/PBoC) membuat harga emas dunia kembali
bangkit.
Dikutip dari Kitco.com, China tetap menjadi
kendali kuat atas pergerakan harga di pasar emas global, dan data
terbaru menunjukkan bahwa hal ini kemungkinan akan terus berlanjut.
Menurut
analisis terbaru oleh Jan Nieuwenhuijs dari Gainesville Coins,
disebutkan bahwa sejak tahun 2022 bank sentral kebanyakan membeli emas
secara terselubung (sering disebut sebagai pembelian "tidak dilaporkan".
"Saat
ini, sudah diketahui secara luas bahwa Dewan Emas Dunia (WGC)
menerbitkan statistik tunggal mengenai pembelian agregat oleh bank
sentral setiap kuartal, yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
gabungan laporan otoritas moneter," ujar Nieuwenhuijs.
"Dengan
mempertimbangkan pembelian yang tidak dilaporkan, bank sentral China
kini memiliki cadangan emas seberat 5.542 ton, menurut penelitian saya,"
tambah Nieuwenhuijs - PT RIFAN FINANCINDO
Sumber : cnbcindonesia