Friday, May 31, 2024

Rifan Financindo Berjangka - Kabar Dari Amerika Angkat Harga Emas

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas dunia naik pada perdagangan kemarin. Sentimen dari Amerika Serikat (AS) masih menjadi penggerak utama harga sang logam mulia.

Pada Kamis, harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 2.344,5/troy ons. Naik 0,26% dibandingkan hari sebelumnya.

Dalam sepekan terakhir, harga emas naik 0,53% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, harga bertambah 0,88%.

Malam tadi waktu Indonesia, US bureau od Economic Analysis merilis data pembacaan kedua pertumbuhan ekonomi AS periode kuartal I-2024. Hasilnya, ekonomi Negeri Adikuasa tumbuh 1,3% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-to-quarter/qtq). Lebih rendah dibandingkan pembacaan pertama yang sebesar 1,6%.

Angka itu juga jauh lebih rendah ketimbang kuartal IV-2023 yang tumbuh 3,4%.

Pertumbuhan ekonomi 1,3% sesuai dengan ekspektasi pasar. Ini juga menjadi pertumbuhan terendah sejak kontraksi pada pertengahan 2022.

Ekonomi AS yang melambat diharapkan juga akan mengurangi tekanan inflasi. Dengan demikian, terbuka harapan bank sentral Federal Reserve bisa menurunkan suku bunga acuan tahun ini.

Mengutip CME FedWatch, peluang Federal Funds Rate turun 25 basis poin (bps) ke 5-5,25% dalam rapat September adalah 45,1%. Naik dibandingkan sepekan lalu yang sebesar 42,1%.

Ekspektasi terhadap penurunan suku bunga acuan menjadi sentimen positif bagi emas. Sebab, emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas kurang menguntungkan dalam iklim suku bunga tinggi.

Analisis Teknikal

Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas masih menghuni zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 49,74. RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish.

Namun perlu dicatat bahwa indikator Stochastic RSI sudah menyentuh 12,63. Di bawah 20, yang berarti tergolong jenuh jual (oversold).

Oleh karena itu, harga emas masih berpeluang naik. Target resisten terdekat ada di US$ 2.356/troy ons. Jika tertembus, maka US$ 2.370/troy ons bisa menjadi target selanjutnya.

Sementara target support terdekat adalah US$ 2.328/troy ons. Penembusan di titik ini bisa membawa harga emas turun lagi menuju US$ 2.317/troy ons - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : bloomberg

 

 

Thursday, May 30, 2024

Rifan Financindo - 5 Kabar Pasar Populer, Rekor Tertinggi Dividen RAJA Hingga Emas

RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Pergerakan harga emas masih mencuri perhatian pasar. Harganya bahkan telah memasuki fase bullish usai mengalami kenaikan beberapa hari terakhir secara beruntun.

Seputar pergerakan harga saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga menjadi kabar pasar yang cukup mencuri perhatian.

Berikut 5 kabar pasar terpopuler sepanjang hari perdagangan kemarin, Rabu

PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) akan membagikan dividen sebesar US$10 juta atau setara Rp160,6 miliar (asumsi kurs Rp16.064) dari hasil laba bersih tahun buku 2023.

Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) langsung mengalami Auto Rejection Bawah (ARB) setelah harga saham ambles 1.125 poin atau anjlok 10% ke Rp10.125. Posisi ARB pada  BREN terjadi usai sahamnya kembali  diperdagangkan di sesi I hari ini, Rabu (29/5/2024), pasca  dilakukan penghentian sementara (suspensi) dua hari lalu.

Harga emas Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) naik pada perdagangan hari ini. Kenaikan yang dipicu oleh dinamika harga emas dunia.

Rupiah semakin tenggelam mendekati Rp16.200/US$ tertekan sentimen global yang memburuk dan kekhawatiran akan lonjakan defisit fiskal APBN akibat tensi geopolitik yang mengerek lonjakan harga minyak dunia.

Harga emas dunia naik pada perdagangan kemarin. Sang logam mulia sah mencatatkan kenaikan harga 3 hari beruntun - RIFAN FINANCINDO

Sumber : bloomberg

Wednesday, May 29, 2024

PT Rifan Financindo Berjangka - Harga Emas Dunia Makin Mahal, Dipatok Segini Sekarang

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas naik pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarta). Lonjakan harga emas dunia ini dibantu oleh melemahnya kurs dolar Amerika Serikat (AS) karena investor menantikan data inflasi AS yang akan dirilis akhir pekan ini untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai waktu penurunan suku bunga.

Harga emas naik 0,38% menjadi USD 2.359 per ons. Sedangkan harga emas berjangka AS melompat 0,9% menjadi USD 2.356,5.

Kami tetap optimis terhadap emas. Saya masih berpikir bahwa ambiguitas kebijakan moneter Federal Reserve mungkin akan menghambat kenaikan harga emas dan pergerakannya akan sangat bergantung pada data di masa depan," jelas dia.

Fokus minggu ini adalah pada indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti AS, yang merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed, yang akan dirilis pada hari Jumat.

Risalah pertemuan The Fed yang dirilis pekan lalu menunjukkan bahwa respons kebijakan, untuk saat ini, akan melibatkan suku bunga acuan pada level saat ini.

Penurunan Suku Bunga

Para pedagang memperkirakan kemungkinan 63% penurunan suku bunga The Fed pada bulan November. Suku bunga yang lebih rendah mengurangi opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

“Harga emas kemungkinan akan tetap didukung oleh permintaan beli saat turun dan diversifikasi bank sentral,” kata Kepala Strategi Pasar Komoditas di Bank of China International Amelia Xiao Fu.

Permintaan emas dari bank sentral global telah meningkat selama dua tahun karena mereka melakukan diversifikasi cadangan mata uang asing.

Sementara itu, dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) emas yang didukung secara fisik mengalami arus keluar bersih sebesar 11,3 metrik ton pada minggu lalu, menurut Dewan Emas Dunia - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : liputan6

 

 

Tuesday, May 28, 2024

PT Rifan Financindo - Harga Emas Pekan Ini Bergantung Ke China

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas mengawali perdagangan pekan ini dengan kembali menguat, cenderung melanjutkan pada perdagangan Jumat pekan lalu.

Pada perdagangan Senin per pukul 06.34 WIB, harga emas di pasar spot menguat 0,19% di posisi US$ 2.338,16 per troy ons.

Sebelumnya pada Jumat pekan lalu, harga emas dunia juga ditutup menguat 0,23% di posisi US$ 2.328,37 per troy ons. Sepanjang pekan lalu, harga emas global ambles 3,36% secara point-to-point (ptp).

Lanjut menguatnya harga emas global pada pagi hari ini terjadi karena pasar masih menimbang sikap bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) yang masih cenderung hawkish, meski diantara para pejabat The Fed juga masih ada perbedaan pendapat.

Sebelumnya, Risalah pertemuan kebijakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 30 April -1 Mei 2024 yang dirilis pada Rabu malam atau Kamis dini hari waktu Indonesia menunjukkan kekhawatiran dari para pengambil kebijakan tentang kapan saatnya untuk melakukan pelonggaran kebijakan.

Pertemuan tersebut menyusul serangkaian data yang menunjukkan inflasi masih lebih tinggi dari perkiraan para pejabat the Fed sejak awal tahun ini. Sejauh ini, The Fed masih menargetkan inflasi melandai 2%.

"Para pejabat mengamati bahwa meskipun inflasi telah menurun selama setahun terakhir, namun dalam beberapa bulan terakhir masih kurang ada kemajuan menuju target 2%," demikian isi risalah the Fed.

Risalah juga menjelaskan bahwa "Sebagian pejabat menyatakan kesediaan-nya untuk memperketat kebijakan lebih lanjut guna mengatasi risiko inflasi yang masih panas".

Beberapa pejabat The Fed, termasuk Ketua The Fed Jerome Powell dan Gubernur The Fed Christopher Waller, sejak pertemuan tersebut mengatakan bahwa mereka masih meragukan langkah selanjutnya yang akan diambil adalah kenaikan suku bunga.

FOMC dengan suara bulat memutuskan pada pertemuan tersebut untuk mempertahankan suku bunga acuan pinjaman jangka pendek di kisaran 5,25%-5,5% yang merupakan level tertinggi dalam 23 tahun terakhir.

"Para peserta menilai bahwa mempertahankan kisaran target suku bunga dana federal pada pertemuan ini didukung oleh data antar-pertemuan yang menunjukkan berlanjutnya pertumbuhan ekonomi yang solid," ungkap risalah tersebut.

Akibat itu, kini peluang penurunan suku bunga kian menyusut, melansir perhitungan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan 59% penurunan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin (bp) pada September. Peluang ini turun dari sebelumnya yang mencapai 65,7%.

"Ketika pasar mulai lesu, tidak diragukan lagi, Anda akan menemukan mereka yang melewatkan reli akan mengambil apa yang mereka anggap sebagai peluang untuk berpartisipasi," kata analis independen Ross Norman, dikutip dari Kitco.com.

Di lain sisi, permintaan emas yang cenderung tinggi dari bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) membuat harga emas dunia kembali bangkit.

Dikutip dari Kitco.com, China tetap menjadi kendali kuat atas pergerakan harga di pasar emas global, dan data terbaru menunjukkan bahwa hal ini kemungkinan akan terus berlanjut.

Menurut analisis terbaru oleh Jan Nieuwenhuijs dari Gainesville Coins, disebutkan bahwa sejak tahun 2022 bank sentral kebanyakan membeli emas secara terselubung (sering disebut sebagai pembelian "tidak dilaporkan".

"Saat ini, sudah diketahui secara luas bahwa Dewan Emas Dunia (WGC) menerbitkan statistik tunggal mengenai pembelian agregat oleh bank sentral setiap kuartal, yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan gabungan laporan otoritas moneter," ujar Nieuwenhuijs.

"Dengan mempertimbangkan pembelian yang tidak dilaporkan, bank sentral China kini memiliki cadangan emas seberat 5.542 ton, menurut penelitian saya," tambah Nieuwenhuijs - PT RIFAN FINANCINDO

Sumber :  cnbcindonesia

 

 

Monday, May 27, 2024

PT Rifan - Emas Mencoba Bangkit Usai Terluka Dalam

PT RIFAN BANDUNG - Harga emas dunia naik tipis pada perdagangan pagi ini. Kenaikan yang terjadi usai sang logam mulia jatuh akhir pekan lalu.

Harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 2.335,1/troy ons. Naik 0,07% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Pada Jumat (24/5/2024), harga emas ditutup di posisi US$ 2.332/troy ons. Anjlok 2,11% dibandingkan sehari sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak 8 Mei.

Dalam seminggu terakhir, harga emas turun 3,76% secara point-to-point, koreksi mingguan terdalam sejak September tahun lalu. Selama sebulan ke belakang, harga hanya naik tipis 0,08%.

Pekan lalu, harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa. Namun sejak titik itu, harga turun lebih dari US$ 100.

Sentimen arah kebijakan suku bunga acuan, terutama di Amerika Serikat (AS), mempengaruhi gerak harga emas. Pekan lalu, Bank Sentral AS Federal Reserve merilis notula rapat terbaru.

Dalam rapat teranyar, Gubernur Jerome ‘Jay’ Powell dan kolega memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 5,25-5,5%. Ini adalah yang tertinggi dalam 22 tahun terakhir.

‘Suasana kebatinan’ dalam rapat tersebut yang membuat harga emas anjlok. Sejumlah anggota Komite Pengambil Kebijakan The Fed (Federal Open Market Committee/FOMC) menilai proses penurunan inflasi atau disinflasi masih berjalan lambat.

“Para peserta memandang bahwa inflasi akan kembali ke target 2% dalam jangka menengah. Namun, disinflasi mungkin akan berlangsung lebih lama dari perkiraan semula,” ungkap notula itu.

Bahkan, sejumlah peserta rapat menyatakan masih ada ruang untuk menaikkan suku bunga acuan jika dibutuhkan. “Beberapa peserta menyebut keinginan untuk mengetatkan suku bunga kebijakan lebih lanjut jika risiko inflasi terwujud, sehingga upaya itu menjadi layak (appropriate),” lanjut risalah rapat tersebut.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan dalam iklim suku bunga tinggi.

“Harga emas terpangkas karena risalah rapat The Fed mengingatkan kita bahwa penurunan suku bunga masih jauh dari kata segera” tegas Tim Waterer, Chief Market Analyst KCM Trade, seperti diberitakan Bloomberg News.

Analisis Teknikal

Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas sudah berada di zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 48,67. RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish.

Namun, perlu diperhatikan bahwa indikator Stochastic RSI sudah menyentuh 7,29. Jauh di bawah 20, yang berarti sangat jenuh beli (oversold).

Dengan begitu, harga emas berpotensi bangkit. Target resisten terdekat ada di US$ 2.343/troy ons. Jika tertembus, maka US$ 2.374/troy ons bisa menjadi target selanjutnya.

Sedangkan target support terdekat adalah US$ 2.316/troy ons. Penembusan di titik ini bisa membawa harga emas turun menuju US$ 2.286/troy ons - PT RIFAN

Sumber : bloomberg

 

Friday, May 24, 2024

Rifan Financindo Berjangka - Harga Emas Lanjut Turun Menjauhi $2.400 Karena Kegelisahan Suku Bunga

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas mengalami kerugian yang berkepanjangan di perdagangan Asia pada hari Kamis, mundur lebih jauh dari rekor tertinggi karena kekhawatiran baru atas suku bunga yang tinggi dan berkurangnya permintaan safe haven yang memukul logam mulia.

Logam industri juga ikut merugi, dengan harga tembaga turun tajam dari rekor tertinggi di tengah aksi ambil untung dan tekanan dari dolar. Namun harga logam merah ini stabil di perdagangan Asia.

Spot gold Harga tembaga untuk pengiriman Juni turun 0,3 menjadi $2.372,38 per ounce, sementara gold futures yang akan jatuh tempo pada bulan Juni turun 0,8 menjadi $2.375,15 per ounce pada pukul 11.22 WIB. Harga spot saat ini jauh di bawah rekor tertinggi $2.450 per ons yang dicapai pada awal minggu.

Kekhawatiran suku bunga meningkat karena risalah Fed menunjukkan kekhawatiran atas inflasi yang lengket

Harga logam tertekan oleh lonjakan semalam di dollar, yang mencapai level tertinggi satu minggu setelah risalah pertemuan Federal Reserve pada akhir April menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan semakin khawatir akan inflasi yang tinggi.

Beberapa pembuat kebijakan juga terbuka untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk menurunkan inflasi, meskipun skenario seperti itu tampaknya tidak mungkin terjadi.

Namun, The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dalam menghadapi inflasi yang tinggi, dengan pidato dari beberapa pembuat kebijakan minggu ini yang menunjukkan bahwa bank memiliki keyakinan terbatas pada inflasi yang mencapai target tahunan 2% dalam waktu dekat.

Suku bunga yang tinggi untuk jangka waktu yang lama merupakan pertanda buruk bagi emas dan logam mulia lainnya, karena hal ini meningkatkan biaya peluang untuk berinvestasi di dalamnya. Gagasan ini telah membuat perjalanan emas menuju rekor tertinggi hanya berlangsung sebentar sepanjang tahun ini.

Kurangnya pemburukan besar dalam ketegangan geopolitik di Timur Tengah, setelah kematian Presiden Iran, juga mengurangi permintaan safe haven untuk emas. 

Para trader emas akan mengamati dengan seksama pembacaan awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur dan Jasa AS untuk bulan Mei. Angka yang lebih lemah dapat memicu harapan untuk penurunan suku bunga Fed dan mendukung emas. Selain itu, ketegangan geopolitik, ketidakpastian, dan inflasi yang tinggi dapat mendukung logam mulia dan membatasi penurunan dalam waktu dekat. Selain itu, Indeks Aktivitas Nasional Fed Chicago, Klaim Pengangguran Awal mingguan, Penjualan Rumah Baru, dan Bostic Fed akan menjadi fokus.

Logam mulia lainnya juga turun pada hari Kamis. Platinum futures turun 0,% menjadi $ 1.041,20 per ons, sementara silver futures merosot 2,5% menjadi $ 30,727 per ons - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : investing

 

Wednesday, May 22, 2024

PT Rifan Financindo Berjangka - Harga Emas Turun Usai Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas dunia turun pada perdagangan kemarin. Maklum, sang logam mulia telah menjalani reli panjang yang membawa harga ke titik tertinggi sepanjang masa.

Harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 2.421,7/troy ons. Turun 0,19% dibandingkan hari sebelumnya.

Koreksi ini terjadi setelah harga emas menanjak hingga membukukan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Ketika reli panjang terjadi, maka koreksi sehat adalah sebuah keniscayaan.

Dalam seminggu terakhir, harga emas masih membukukan kenaikan 2,8% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, harga naik 3,77%.

Meski turun, tetapi secara umum pelaku pasar menilai emas masih atraktif. “Gambaran umumnya belum berubah sejak Maret. Kondisi makro ekonomi global dan lingkungan geopolitik masih membuat emas sangat menarik,” kata Nikos Kavalis, Direktur Pelaksana Metal Focus, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Perlambatan laju inflasi di Amerika Serikat (AS) mendukung bagi Bank Sentral Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga. Sejumlah pejabat teras The Fed memang menegaskan pemangkasan suku bunga masih terlampau dini, tetapi setidaknya tidak ada kenaikan lagi.

Sementara di China, pemerintahan Presiden Xi Jinping terus berupaya untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dengan berbagai stimulus. Tensi geopolitik di Timur Tengah maupun Ukraina juga masih tinggi. Semuanya menjadi faktor pemicu bagi investor untuk terus memburu emas.

Analisis Teknikal

Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas masih menghuni area bullish. Terbukti dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 66,19. RSI di atas 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bullish.

Namun perlu menjadi perhatian bahwa indikator Stochastic RSI berada di 92,98. Sudah di atas 80, yang berarti tergolong jenuh beli (overbought).

Oleh karena itu, sepertinya emas masih akan menjalani fase konsolidasi. Target support terdekat ada di US$ 2.405/troy ons. Jika tertembus, maka US$ 2.373/troy ons kemungkinan menjadi target berikutnya.

Sedangkan target resisten terdekat adalah US$ 2.428/troy ons. Penembusan di titik ini berpotensi membawa harga emas naik ke arah US$ 2.438/troy ons - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : bloomberg

 

Tuesday, May 21, 2024

PT Rifan Financindo - Harga Emas Sentuh Rekor Tertinggi, Dipicu Beragam Faktor

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas melonjak ke rekor tertinggi pada hari Senin (20/5) didorong oleh berbagai faktor.

Mulai dari ekspektasi penurunan suku bunga AS, langkah stimulus China, hingga ketegangan geopolitik.

Momentum ini turut mengangkat perak ke level tertinggi dalam lebih dari 11 tahun.

Emas spot (XAU=) naik 0,9% menjadi $2.435,96 per ounce pada pukul 2:26 sore ET (18:26 GMT) setelah menyentuh rekor tertinggi $2.449,89 di awal sesi. 

Emas berjangka AS (GCcv1) menetap 0,9% lebih tinggi di $2.438,50.

"Inflasi masih alot, kita mungkin melihat beberapa fluktuasi dalam data inflasi, tetapi juga beban hutang yang memberatkan di AS, ada alasan untuk melakukan diversifikasi dari itu juga.

Jadi ini badai yang sempurna yang membuat emas tetap tinggi," kata Daniel Pavilonis, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.

Data pekan lalu menunjukkan bahwa harga konsumen AS naik kurang dari yang diperkirakan pada bulan April, menunjukkan bahwa inflasi melanjutkan tren penurunannya, meningkatkan ekspektasi untuk penurunan suku bunga pada bulan September. 

Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya peluang untuk memegang emas batangan yang tidak menghasilkan bunga, yang juga diuntungkan dari ketidakpastian di pasar.

Pavilonis dari RJO memperkirakan emas akan melonjak mendekati $2.500 dalam jangka pendek karena ada ketakutan ketinggalan reli emas.

"Ada banyak non-trader yang menelepon pialang untuk membeli kontrak berjangka atau mengambil pengiriman fisik." 

Emas juga didukung oleh peningkatan kepemilikan di bank sentral China. Menambah kenaikan emas adalah peningkatan keengganan risiko menyusul tewasnya Presiden Iran Ebrahim Raisi dalam kecelakaan helikopter, tulis analis Kitco Metals dalam sebuah catatan.

Sementara itu, beberapa analis juga menunjukkan lonjakan emas ke pengumuman China tentang langkah "bersejarah" untuk menstabilkan sektor properti yang dilanda krisis. China adalah konsumen utama emas dan logam industri lainnya - PT RIFAN FINANCINDO

Sumber : kontan.co

 

 

 

Monday, May 20, 2024

PT Rifan - Penyebab Harga Emas Tembus Rekor Tertinggi Hari Ini

PT RIFAN BANDUNG - Harga emas dunia menanjak dan menyentuh rekor tertinggi. Apa pendorong kenaikan harga sang logam mulia?

Harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 2.430,01/troy ons. Naik 0,62% dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu dan menjadi rekor tertinggi sepanjang masa.

Dalam sepekan terakhir, harga emas naik 3,54% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, harga bertambah 3,74%.

Penyebab utama kenaikan harga emas adalah ekspektasi penurunan suku bunga acuan, terutama di Amerika Serikat (AS). Mengutip CME FedWatch, Federal Reserve diperkirakan mulai menurunkan suku bunga pada September mendatang. Peluang penurunan 25 basis poin (bps) ke 5-5,25% adalah 49%, lebih tinggi dibandingkan sepekan lalu yaitu 48,6% dan sebulan lalu yang sebesar 45,8%.

Optimisme ini datang dari rilis data inflasi. Pekan lalu, US Bureau of Labor Statistics mengumumkan inflasi Negeri Adikuasa pada April berada di 0,3% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Lebih rendah dibandingkan Maret yang sebesar 0,4%.

Kemudian inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada April tercatat 3,4%. Juga melambat ketimbang Maret yang 3,5% yoy.

Lalu inflasi inti tahunan ada di 3,6% yoy. Lebih rendah dibandingkan Maret yang sebesar 3,8% yoy sekaligus jadi yang terendah sejak April 2021 atau 3 tahun terakhir.

“Data ini bisa menjadi indikasi bahwa tekanan inflasi akan mereda dan The Fed (Federal Reserve, Bank Sentral AS) bisa menurunkan suku bunga acuan,” tegas Phillip Streble, Chief Market Strategist di Blue Line Futures, seperti diberitakan Bloomberg News.

Penurunan suku bunga akan menjadi kabar baik bagi emas, yang berstatus sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas lebih menguntungkan dalam iklim suku bunga rendah.

Dinamika geopolitik juga turut mengatrol harga emas. Tensi meningkat setelah pesawat tanpa awak (drone) Ukraina menyerang kilang minyak milik Rusia, kemarin. 

Sementara kapal tanker China diserang oleh misil di Laut Merah, Sabtu lalu. Milisi Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Emas adalah aset yang dipandang aman (safe haven). Permintaan emas cenderung naik saat terjadi ketidakpastian, termasuk friksi geopolitik - PT RIFAN

Sumber : bloomberg

 

 

Friday, May 17, 2024

Rifan Financindo Berjangka - The Fed Seret Emas Ke Zona Bearish

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas dunia turun pada perdagangan kemarin. Sentimen arah suku bunga acuan di Amerika Serikat (AS) masih menjadi faktor utama penggerak harga sang logam mulia.

Harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 2.377,8/troy ons. Turun 0,59% dibandingkan hari sebelumnya.

Harga emas masih belum banyak bergerak. Pada pukul 07:07 WIB, harga naik tipis 0,04% ke US$ 2.378,7.

Dalam seminggu terakhir, harga emas naik 1,37% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, harga bertambah 0,46%.

Kabar soal arah suku bunga acuan masih menjadi faktor dominan penentu harga emas. Sejumlah pejabat teras Bank Sentral AS Federal Reserve menegaskan suku bung acuan masih perlu bertahan di level tinggi, tidak perlu terburu-buru diturunkan.

Informasi yang ada mengindikasikan butuh waktu lama untuk mendapatkan keyakinan (penurunan suku bunga). Mempertahankan posisi restriktif lebih lama adalah langkah yang pruden,” tegas Loretta Mester, Gubernur The Fed Cleveland, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Sementara Gubernur The Fed New York John Williams menyatakan dirinya belum melihat alasan untuk mengubah suku bunga untuk saat ini. Dalam wawancara bersama Reuters, Williams menegaskan perlu bank sentral perlu mendapatkan keyakinan bahwa inflasi benar-benar mengarah ke target 2%.

Saya tidak memperkirakan untuk mendapat keyakinan bahwa inflasi menuju 2% dalam waktu dekat,” tuturnya.

Sementara Gubernur The Fed Richmond Richard Barkin mengatakan inflasi perlu turun lebih lanjut untuk menuju target bank sentral. “Untuk menuju (target) 2%, saya rasa butuh waktu sedikit lebih lama,” ujarnya kepada CNBC.

Saat ini, Federal Funds Rate berada di 5,25-5,5%. Ini adalah yang tertinggi dalam 22 tahun terakhir.

Pernyataan dari para pejabat The Fed tersebut menjadi beban harga emas, yang merupakan aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas kurang menguntungkan dalam iklim suku bunga tinggi.

Analisis Teknikal

Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas sudah masuk zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 48,63. RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish.

Sementara indikator Stochastic RSI ada di 52,4. Berada di area beli (long), tetapi masih cenderung netral.

Oleh karena itu, sepertinya harga emas hanya bisa bergerak di rentang sempit. Target resisten terdekat ada di US$ 2.378-2.382/troy ons. Sedangkan target support adalah US$ 2.376-2.362/troy ons - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : bloomberg

 

Thursday, May 16, 2024

Rifan Financindo - Kabar Dari Amerika Lambungkan Harga Emas

RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas dunia naik pada perdagangan kemarin. Rilis data inflasi di Amerika Serikat (AS) berperan dalam mengerek harga sang logam mulia.

Harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 2.391,24/troy ons. Naik 1,5% dibandingkan hari sebelumnya.

Dalam seminggu terakhir, harga emas sudah naik 3,57% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, harga bertambah 0,58%.

Perlambatan laju inflasi di AS menjadi sentimen positif bagi emas. Malam tadi waktu Indonesia, US Bureau of Labor Statistics mengumumkan inflasi Negeri Adikuasa pada April berada di 0,3% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Lebih rendah dibandingkan Maret yang sebesar 0,4%.

Kemudian inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada April tercatat 3,4%. Juga melambat ketimbang Maret yang 3,5% yoy.

Lalu inflasi inti tahunan ada di 3,6% yoy. Lebih rendah dibandingkan Maret yang sebesar 3,8% yoy sekaligus jadi yang terendah sejak April 2021 atau 3 tahun terakhir.

“Data ini bisa menjadi indikasi bahwa tekanan inflasi akan mereda dan The Fed (Federal Reserve, Bank Sentral AS) bisa menurunkan suku bunga acuan,” tegas Phillip Streble, Chief Market Strategist di Blue Line Futures, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Penurunan suku bunga akan menjadi kabar baik bagi emas, yang berstatus sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas lebih menguntungkan dalam iklim suku bunga rendah.

Analisis Teknikal

Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas menghuni zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 68. RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish.

Namun perlu diperhatikan bahwa indikator Stochastic RSI berada di 94,78. Di atas 80, yang berarti tergolong jenuh beli (overbought).

Alhasil, risiko koreksi harga emas masih terbuka. Target support terdekat ada di US$ 2.388/troy ons. Jika tertembus, maka US$ 2.382/troy ons bisa menjadi target selanjutnya.

Sementara target resisten terdekat adalah US$ 2.394/troy ons. Penembusan di titik ini bisa membawa harga emas naik ke arah US$ 2.395/troy ons. Terlihat bahwa potensi kenaikan harga sudah kian terbatas - RIFAN FINANCINDO

Sumber : bloomberg

 

 

Wednesday, May 15, 2024

PT Rifan Financindo Berjangka - PPI, inflasi CPI Ditunggu Untuk Isyarat Suku Bunga Lebih Lanjut

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Data indeks harga produsen AS akan dirilis pada hari Selasa, sementara pembacaan indeks harga konsumen yang lebih dekat akan dirilis pada hari Rabu.

Kedua data tersebut kemungkinan akan menjadi faktor yang mempengaruhi prospek suku bunga AS, setelah data inflasi yang terlalu tinggi selama kuartal pertama membuat pasar sebagian besar memperkirakan sebagian besar taruhan pada penurunan suku bunga tahun ini.

Sementara perdagangan ini menunjukkan lebih banyak hambatan untuk emas, logam mulia ini diuntungkan oleh meningkatnya permintaan safe haven di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Namun, beberapa de-eskalasi, khususnya antara Iran dan Israel, membuat emas rentan terhadap tekanan dari suku bunga.

Suku bunga yang tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama menjadi pertanda buruk bagi emas, mengingat bahwa mereka meningkatkan biaya peluang untuk berinvestasi dalam logam mulia.

Logam mulia lainnya juga menguat pada hari Selasa. Platinum futures naik 0,1% menjadi $ 1.011,05 per ons, sementara silver futures naik 0,9% menjadi $ 28,688 per ons - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : investing

Tuesday, May 14, 2024

PT Rifan Financindo - Harga Emas Ambruk 1% Lebih! Amerika Bisa Buat Investor Makin Jantungan

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas menguat tipis pada perdagangan hari ini, Selasa setelah ambruk. Harga emas bergerak labil seiring adanya aksi ambil untung dan investor menantikan data inflasi utama minggu ini untuk petunjuk mengenai kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve AS tahun ini.

Mengutip Refinitiv, harga emas spot ditutup di posisi US$2.336,05 per troy ons pada perdagangan Senin. Harganya ambruk 1,02%. Ambruknya emas berbanding terbalik dengan penguatan pada Kamis dan Jumat pekan lalu dengan penguatan mencapai 2,2%.

Harga emas mulai membaik pada hari ini. Harga sang logam mulia naik 0,09% menjadi US$2,338,09 per troy ons pada Selasa pukul 06.15 WIB. 

Pelaku emas tengah menunggu data-data dari Amerika Serikat (AS) mulai dari indeks harga produsen dan data inflasi April 2024.

Data indeks harga produsen (PPI) akan diumumkan hari ini sementara data inflasi pada Rabu pekan ini.

AS akan mengumumkan data indeks harga produsen (PPI) pada hari ini, Selasa periode April 2024. 

Data PPI AS diperkirakan naik sebesar 0,3% pada April 2024 setelah kenaikan 0,2% pada bulan Maret. PPI inti, tidak termasuk biaya energi dan pangan, diperkirakan meningkat sebesar 0,2%, sama seperti pada bulan Maret.

PPI secara tahunan diperkirakan sebesar 2,2% pada April 2024, meningkat dibanding periode Maret yang menyentuh 2,1%. Sedangkan, PPI inti diperkirakan konsensus sebesar 2,4% secara tahunan setara dengan periode Maret.

Ukuran inflasi PPI mencerminkan laju inflasi pada tingkat grosir - harga yang dibayarkan oleh pelaku usaha untuk barang dan jasa yang kemudian mereka jual kepada konsumen.

Selain data-data ekonomi AS, petinggi bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) juga bakal membuat pemilik emas cemas.  Jerome Powell selaku Ketua Bank Sentral AS, The Fed, akan berpidato pada malam ini pukul 21.00 WIB pada acara Annual General Meeting, Foreign Bankers' Association, Amsterdam. Publik menunggu apakah Powell akan memberi sinyal kebijakan ke depan.

Jika pidato Powell masih hawkish maka siap-siap saja harga emas akan merana.

"Ini mungkin merupakan aksi keluar dari pasar emas sebelum beberapa peristiwa berisiko seperti pidato Ketua Fed Jerome Powell, data Indeks Harga Produsen (PPI), dan Indeks Harga Konsumen (CPI) yang semuanya akan keluar minggu ini," kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures yang dikutip dari Reuters.

"[Fase] bull emas memiliki alasan kuat untuk khawatir bahwa Federal Reserve membutuhkan data inflasi yang lebih lemah, tidak hanya data ketenagakerjaan yang lebih lemah, untuk membenarkan penurunan suku bunga," kata Tai Wong, pedagang logam independen yang berbasis di New York.

Logam mulia ini telah naik lebih dari 1% minggu lalu, menyusul data pekerjaan yang lemah, yang mendukung taruhan penurunan suku bunga AS tahun ini.

Mayoritas ekonom yang disurvei oleh Reuters sekarang memperkirakan Fed akan memangkas suku bunga acuan dua kali tahun ini, dimulai pada bulan September.

Para pedagang saat ini memperkirakan sekitar 63% kemungkinan penurunan suku bunga pada bulan September, menurut CME FedWatch Tool. Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya peluang untuk memegang emas yang tidak menghasilkan bunga.

Fokus pasar minggu ini akan tertuju pada data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang akan dirilis pada hari Selasa pukul 19.30 WIB, diikuti oleh data Indeks Harga Konsumen (CPI) yang akan dirilis pada hari Rabu - PT RIFAN FINANCINDO

Sumber : cnbcindonesia

 

Monday, May 13, 2024

PT Rifan - Pernyataan Hawkish Pejabat The Fed Memperkecil Kemungkinan Penurunan Suku Bunga AS

PT RIFAN BANDUNG - Pernyataan para pejabat Fed pada minggu ini menjadi perhatian pasar, apakah memberikan sinyal hawkish atau dovish?

Pernyataan hawkish memberikan sentimen bahwa The Fed perlu mempertahankan suku bunga saat ini dalam jangka waktu lama, sampai memperoleh keyakinan inflasi benar-benar turun dan menuju target 2% dari The Fed. Dengan demikian kemungkinan penurunan suku bunga tahun ini menjadi sedikit, bahkan mungkin tidak dilakukan penurunan suku bunga.

Namun jika pernyataan dovish diberikan, dapat memberikan sentimen The Fed akan menurunkan suku bunga lebih cepat dan dalam beberapa kali penurunan pada tahun ini.

Dari berbagai pernyataan para pejabat Fed minggu ini sebagian besar memberikan sinyal hawkish bagi kebijakan suku bunga The Fed.

Gubernur Fed Michelle Bowman mengatakan pada hari Jumat bahwa Fed harus menjaga kredibilitas inflasinya “dengan melanjutkan secara hati-hati dan untuk mencapai target 2% ”.
Bowman menambahkan The Fed perlu mempertahankan suku bunganya “sedikit lebih lama.”

Sementara itu, Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic memperkirakan hanya satu kali penurunan suku bunga sebesar 25bp tahun ini, yang akan terjadi pada akhir tahun ini.

Sedangkan Presiden Fed Dallas Lorie Logan menyatakan masih terlalu dini untuk berpikir mengenai penurunan suku bunga.

Sebelumnya pada hari Kamis, Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan ketidakpastian mengenai prospek inflasi telah meningkat dan mempersulit pembuatan proyeksi kebijakan sampai bank sentral mendapatkan kejelasan lebih lanjut.

Sedangkan pada hari Selasa Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari mengatakan bahwa terlalu dini untuk menyatakan bahwa inflasi telah terhenti. Kashkari juga menyatakan kemungkinan besar The Fed akan mempertahankan suku bunganya untuk jangka waktu yang lama sampai mereka yakin inflasi berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target mereka.

Presiden Fed Boston Susan Collins mengatakan akan diperlukan waktu lebih lama dari perkiraan sebelumnya untuk menurunkan inflasi.

Di awal pekan pada hari Senin, Presiden Fed New York John Williams mengatakan bahwa kebijakan berada pada posisi yang sangat baik saat ini dan The Fed memiliki waktu untuk mengumpulkan lebih banyak, sehingga stabil seiring berjalannya waktu.

Presiden Fed Richmond Thomas Barkin menyatakan optimis bahwa suku bunga saat ini akan cukup untuk menurunkan inflasi dan The Fed dapat bersabar karena pasar kerja yang kuat.

Sementara itu, untuk sinyal yang tidak terlalu hawkish, Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan tidak banyak bukti bahwa inflasi terhenti hingga mencapai 3%.

Pasar memperkirakan kemungkinan penurunan suku bunga -25bp sebesar 5% pada pertemuan FOMC 11-12 Juni dan 27% pada pertemuan berikutnya pada 30-31 Juli, turun dari level masing-masing 10% dan 36% pada hari Kamis.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan, dengan pernyataan hawkish para pejabat The Fed akan menguatkan mata uang dolar AS dan imbal hasil Treasury AS. Namun memberikan sentimen bearish bagi pasar saham yang membatasi keuntungan pasar saham. Sedangkan pasar emas dapat bergerak naik dengan masih meningkatnya aset safe haven dengan ketegangan di Timur Tengah dan menurunnya data sentimen konsumen AS - PT RIFAN

Sumber : vibiznews

Friday, May 10, 2024

Rifan Financindo - Perkiraan Harga XAU/USD Untuk Tahun 2024

RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas tetap berada dalam kisaran dalam beberapa minggu terakhir setelah penurunan tajam emas batangan bulan lalu, yang dipicu oleh kekhawatiran akan konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Hari ini, XAU/USD bertahan karena para investor menunggu data ekonomi AS untuk mendapatkan informasi mengenai potensi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve. Sedikit kenaikan dolar AS membatasi kenaikan.

Aksi harga emas terkini

Emas sebagian besar tetap datar pada $ 2.312,61 pada perdagangan hari ini, sementara gold futures AS untuk pengiriman Juni menetap 0,1% lebih rendah pada $ 2.322,3 per ounce.

Dolar naik 0,1% di tengah ekspektasi penurunan suku bunga tahun ini, yang dapat membuat emas kurang menarik bagi pemegang mata uang asing.

"Pasar cenderung menunggu katalis untuk kenaikan tambahan, sedangkan sisi negatifnya tampaknya dibatasi oleh partisipasi terbatas dari para manajer keuangan," kata ahli strategi komoditas di TD Securities.

Presiden Federal Reserve Boston Susan Collins menyatakan keyakinannya bahwa kebijakan moneter saat ini akan memperlambat ekonomi secara memadai untuk membawa inflasi kembali ke target 2% Fed.

Para investor sekarang menunggu pembacaan sentimen konsumen dari University of Michigan pada hari Jumat dan komentar dari beberapa pejabat the Fed minggu ini. Selain itu, data indeks harga konsumen AS akan dirilis pada 15 Mei.

Data pekerjaan AS yang lemah baru-baru ini telah menyebabkan pasar uang memperhitungkan dua kali penurunan suku bunga Fed tahun ini dan sekitar 40 basis poin pelonggaran moneter.

Pekan lalu, harga emas mengalami penurunan mingguan kedua berturut-turut, menetap di atas ambang batas $2.300 setelah volatilitas pasar baru-baru ini yang berasal dari pengumuman kebijakan pertengahan minggu Federal Reserve dan laporan ketenagakerjaan AS.

Penurunan bullion mengejutkan para pedagang yang telah mengantisipasi reli yang lebih kuat di tengah penurunan imbal hasil obligasi AS, terutama setelah Ketua Fed Jerome Powell mengisyaratkan kemungkinan penurunan suku bunga meskipun ada kekhawatiran inflasi yang masih ada. Sikap dovish-nya mengangkat optimisme pasar, mendorong aset berisiko dengan mengorbankan investasi safe haven.

Prospek harga XAU/USD

Ketidakpastian ekonomi, potensi pelonggaran Fed, dan melemahnya dolar AS secara teoritis seharusnya mendukung logam mulia, namun reli emas baru-baru ini dan terputusnya hubungan dengan fundamental dapat berarti harga tetap stagnan atau semakin turun.

Meskipun kalender ekonomi AS terlihat relatif sepi di minggu mendatang, hal ini dapat berubah dengan dirilisnya data inflasi April pada 15 Mei, yang berpotensi memicu volatilitas pasar. Kejutan apa pun dapat memengaruhi sentimen dan menyebabkan pergeseran harga yang tajam.

Menyusul kinerja yang lemah minggu lalu, emas mencapai level terendahnya dalam hampir satu bulan terakhir, namun masih berada di atas $2,280.

Menurut analis DailyFX, bulls harus mempertahankan support ini untuk menghindari penurunan ke level Fibonacci utama di $2.260. Penurunan lebih lanjut dapat menarik harga XAU/USD menuju rata-rata pergerakan sederhana 50 hari di $2,235.

Pada sisi atas, perubahan haluan bullish akan menghadapi resistensi awal di $2.325, diikuti oleh $2.355. Menembus wilayah ini dapat membuka jalan menuju $2.375 untuk XAU/USD, ditandai dengan garis tren turun jangka pendek dari rekor tertinggi - RIFAN FINANCINDO

Sumber : investing

 

Wednesday, May 8, 2024

PT Rifan Financindo Berjangka - Harga Emas Di Eropa Rebound, Permintaan Emas India Turun

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Pergerakan harga emas pada perdagangan sesi Eropa hari Senin 6 Mei 2024 rebound dari kisaran terendah 4 pekan di tengah upaya rebound dolar AS.

Harga emas spot pada perdagangan sesi Eropa terpantau naik 0,33% ke $2308,83, demikian untuk harga emas comex kontrak bulan Juni 2024 bergerak positif dengan naik 0,40% ke $2317,70.

Harga emas naik dengan para pedagang mengantisipasi pernyataan dari sejumlah pejabat Fed yang akan dirilis minggu ini untuk mencari isyarat lebih lanjut mengenai jadwal potensi penurunan suku bunga, terutama sehubungan dengan data NFP AS yang lebih rendah.

Perlambatan yang lebih besar dari perkiraan dalam perluasan lapangan kerja AS selama bulan April, memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan memulai penurunan suku bunga pada akhir tahun ini.

Suku bunga yang lebih rendah mengurangi opportunity cost dari memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga meningkatkan daya tariknya.

Di tempat lain, permintaan emas fisik di India tetap rendah pada minggu lalu meskipun harga turun, karena pembeli menunda penurunan yang lebih besar, sementara premi Tiongkok turun untuk minggu kedua karena lemahnya permintaan pada hari libur.

Untuk pergerakan selanjutnya, harga emas diperkirakan menguat secara teknikal, kini harga berusaha naik ke kisaran $2320 dan jika tembus dapat naik ke resisten kuat di $2322,70.

Namun jika terkoreksi, akan turun kembali ke posisi terendah 2291,75 dan jika tembus dapat meluncur menuju posisi support kuat di $2279,05 - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : vibiznews

Tuesday, May 7, 2024

PT Rifan Financindo - Goldman Sachs: Saat Ini Komoditas Dan Uang Tunai lebih Baik Seiring Meningkatnya Ketidakpastian

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Para analis di Goldman Sachs mengatakan dalam sebuah catatan bahwa mereka beralih ke komoditas Overweight dalam jangka waktu tiga bulan dan 12 bulan untuk mendiversifikasi risiko overheating dan risiko geopolitik. Mereka juga beralih ke Overweight cash dalam jangka waktu tiga bulan untuk mengurangi risiko portofolio.

Bank investasi ini mencatat bahwa latar belakang makro telah berubah menjadi "kurang bersahabat" sejak Maret karena inflasi yang lebih tinggi dan tekanan kenaikan suku bunga. Namun, baseline mereka tetap bersahabat untuk sisa tahun ini.

"Meskipun indikator-indikator siklus bisnis kami masih menunjukkan latar belakang siklus yang terlambat, hal ini dapat bertahan lama, dan ekuitas dapat bekerja dengan baik jika tidak ada resesi," kata Goldman.

Lebih jauh lagi, bank investasi ini percaya bahwa kinerja komoditas harus didukung lebih lanjut oleh latar belakang siklus akhir dengan persediaan, defisit, dan kemunduran yang moderat hingga rendah.

"Kami juga merekomendasikan beberapa opsi overlay untuk mengurangi risiko, termasuk menjual harga untuk membeli volatilitas ekuitas, kerah yang lebih panjang, dan kenaikan Dolar," tambah mereka.

Mengenai uang tunai, para analis di Goldman Sachs mengatakan bahwa mereka terus menyukai Dolar sebagai hamparan portofolio untuk mengurangi risiko guncangan suku bunga AS.

Goldman mengatakan: "Meskipun uang tunai terlihat lebih menarik dari perspektif imbal hasil dan risiko dengan latar belakang suku bunga 'lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama', dengan baseline makro kami untuk normalisasi inflasi yang berkelanjutan, kami bertujuan untuk sepenuhnya berinvestasi pada horizon 12m - PT RIFAN FINANCINDO

Sumber : investing

Monday, May 6, 2024

PT Rifan - Harga Emas Dibebani Kekhawatiran Suku Bunga Jelang NFP

PT RIFAN BANDUNG - Harga emas bergerak sedikit di perdagangan Asia pada hari Jumat karena pasar tetap menghindari logam mulia sebelum data gaji utama AS, sementara prospek kenaikan suku bunga yang lebih tinggi membuat emas berada di jalur kerugian mingguan.

Logam mulia mengalami penurunan tajam dari rekor tertinggi selama dua minggu terakhir, karena permintaan safe haven mengering dan tekanan dari suku bunga AS kembali berperan.

Spot gold stabil di $ 2.302,72 per ounce, sementara gold futures yang akan berakhir pada bulan Juni naik tipis menjadi $ 2.311,45 per ounce pada pukul 11:21 GMT.

Logam mulia ini mengalami penurunan harga karena dolar jatuh dalam perdagangan semalam. Namun hal ini hanya berfungsi untuk membatasi kerugian emas baru-baru ini - PT RIFAN

Sumber :investing 


 

Friday, May 3, 2024

Rifan Financindo Berjangka - Wall Street Rebound Kuat Merespon Pernyataan Ketua Fed Yang Tenangkan Pasar

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Mayoritas saham Wall Street rebound kuat menutup perdagangan yang berakhir Jumat dinihari.

Dow Jones melonjak 0,9% menjadi 38.225,66, Nasdaq melonjak 1,5% menjadi 15.840,96 dan S&P 500 menguat 0,9% pada 5.064,20.

Penguatan saham yang muncul di Wall Street terjadi karena aksi bargain hunting merespon positif pernyataan Ketua Fed Jerome Powell yang mengecilkan terjadinya kenaikan suku bunga.

Karena sebelumnya investor khawatirkan prospek kebijakan moneter The Fed yang hawkish pasca rilis data ekonomi AS yang kuat melebihi perkiraan.

Seperti laporan terbaru yang menunjukkan lonjakan biaya tenaga kerja pada kuartal pertama tahun 2024 dan menurunnya defisit perdagangan AS pada bulan Maret.

Laporan biaya unit tenaga kerja melonjak sebesar 4,7% pada kuartal pertama menyusul revisi angka yang tidak berubah pada kuartal keempat.

Secara sektoral, penguatan dipimpin oleh saham-saham transportasi yang naik tajam hingga menyebabka Dow Jones Transportation Average naik sebesar 2,5%.

Penguatan selanjutnya terlihat pada saham-saham semikonduktor dengan Philadelphia Semiconductor Index melonjak 2,2%.

Demikian pergerakan positif yang signifikan saham ritel mendorong Dow Jones U.S. Retail Index naik sebesar 2%.

Untuk pergerakan sebaliknya terjadi pada saham-saham farmasi yang masih berakhir dalam zona merah - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : vibiznews

Thursday, May 2, 2024

Rifan Financindo - Harga Emas Turun Karena Kegelisahan Suku Bunga Meningkat Jelang Pertemuan Fed

RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas turun di perdagangan Asia pada hari Selasa, tetap berada di bawah puncak baru-baru ini karena kekhawatiran akan kenaikan suku bunga AS yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama tumbuh sebelum pertemuan Federal Reserve minggu ini.

Melemahnya permintaan safe haven juga membebani, terutama karena laporan terbaru menunjukkan pembicaraan gencatan senjata baru antara Israel dan Hamas. Hal ini membuat emas semakin rentan terhadap risiko yang didorong oleh suku bunga.

Spot gold Harga emas untuk pengiriman Desember turun 0,4% menjadi $2,326.45 per ons, sementara gold futures yang akan jatuh tempo pada bulan Juni turun 0,9% menjadi $2,337.30 per ons pada pukul 07:44 WIB. Harga spot diperdagangkan lebih dari $100 di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada awal April.

Namun, terlepas dari penurunan baru-baru ini, harga emas masih diperdagangkan lebih dari 4% untuk bulan April, memperpanjang kenaikan besar yang terlihat pada bulan Maret - RIFAN FINANCINDO

Sumber : investing