HARGA EMAS HARI INI mencatatkan tren penurunan bulanan keempat secara berturut-turut setelah kebijakan moneter restriktif dari otoritas moneter AS tidak menunjukkan tanda-tanda akan melonggar. Data inflasi inti yang dirilis kemarin menegaskan bahwa jarak menuju target stabilitas harga yang diinginkan bank sentral masih terpaut cukup jauh. Realitas ini memupus harapan para pelaku pasar yang sebelumnya memprediksi akan adanya pelonggaran kebijakan fiskal maupun moneter dalam waktu dekat.
Imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat yang terus merangkak naik menjadi batu sandungan utama bagi pemulihan harga logam mulia tanpa bunga ini. Para investor global saat ini cenderung memilih mengalokasikan modal mereka pada instrumen pasar uang berjangka yang menawarkan keuntungan berkala di tengah situasi pasar yang tidak menentu. Penurunan minat investasi pada reksa dana berbasis emas atau ETF semakin menegaskan kehati-hatian investor dalam memandang prospek komoditas ini.
Meskipun fundamental jangka pendek cenderung bearish, beberapa analis komoditas menilai bahwa penurunan harga emas yang sudah mencapai belasan persen pada kuartal ini mulai mendekati area jenuh jual. Akumulasi tersembunyi oleh lembaga keuangan non-barat di pasar fisik sering kali menjadi pemicu berbaliknya arah tren secara mendadak ketika sentimen makro mulai mereda. Oleh karena itu, konsolidasi harga di sekitar level dukungan saat ini diawasi dengan sangat ketat oleh para analis teknikal.
Proyeksi untuk sesi New York nanti malam memperlihatkan pergerakan harga komoditas ini akan bergerak dalam rentang konsolidasi yang cenderung melemah tipis menjelang akhir pekan. Rilis indeks manufaktur ISM Amerika Serikat malam nanti akan menjadi indikator krusial berikutnya bagi para pelaku pasar untuk membaca kekuatan aktivitas bisnis domestik. Pergerakan di atas batas psikologis utama akan menjadi target kritis yang harus dipertahankan oleh para pembeli untuk mencegah penurunan teknis lebih lanjut - PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG
Sumber: Newsmaker
