Tuesday, June 30, 2020
PT Rifan Financindo - Bursa Asia Babak Belur, Jepang Paling Parah Drop 2,3%
PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Bursa saham di kawasan Asia pada perdagangan awal pekan Senin terpantau mayoritas berada di zona merah.
Sentimen negatif datang dari Dana Moneter Internasional (IMF) yang selain merevisi turun angka proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini, IMF juga mempublikasikan kajiannya yang mengatakan pasar saat ini sangatlah riskan terkoreksi mengingat fundamentalnya yaitu ekonomi yang masih sangat rapuh.
Lembaga keuangan global yang bermarkas di Washington DC tersebut menyoroti reli di pasar keuangan yang terjadi, terutama di pasar saham. Sejak menyentuh titik dasar (bottom) pada 23 Maret 2020, pasar ekuitas global mengalami reli tak terbendung.
IMF melihat bahwa saat ini terjadi diskoneksi antara pasar dan kegiatan ekonomi riil yang berpotensi membuat harga-harga aset terkoreksi alias hanya fenomena bear market rally. Fenomena ini juga pernah terjadi pada krisis-krisis sebelumnya.
Diskoneksi antara pasar dan ekonomi riil meningkatkan risiko terjadinya koreksi harga aset-aset keuangan ketika selera investor terhadap risiko memudar, hal ini akan menjadi ancaman untuk pemulihan.
Selain itu anjloknya bursa saham Wall Street di AS juga memperburuk keadaan bursa kawasan Benua Kuning. Terpantau pada perdagangan Jumat indeksDow Jones Industrial Average (DJIA) turun 2,84%, S&P 500 terkoreksi2,42%, dan Nasdaq Composite terdepresiasi2,59%.
Di Jepang, Indeks Nikkei anjlok 2,30% setelah rilis data Penjualan Ritel Bulan Mei Jepang oleh Kementrian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang yang menunjukkan terjadinya kontraksi penjualan ritel sebesar 12,3%, kontraksi ini lebih parah dari ramalan konsensus yang meramakan hanya terjadi kontraksi 11,6%.
Sementara itu di Hong Kong, Indeks Hang Seng turun 1,01%, setelah rilis data Ekspor dan Impor Hong Kong Bulan Mei oleh Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong, Impor Hong Kong bulan Mei sendiri terkontraksi 12,3% naik dari bulan sebelumnya yang terkontraksi 6,7% sedangkan ekspornya juga ikut terkontraksi 7,4% lebih parah dari bulan sebelumnya yaitu kontraksi sebesar 3,7%.
Sedangkan bursa saham Indeks STI di Singapura terkoreksi 1,05%, Indeks Kospi di Korea Selatan anjlok 1,93%, Indeks SSE di China turun 0,61%, akan tapi dari dari dalam negeriIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya ikutmengalami depresiasi tipis 0,05% ke level 4.869,00 dan berhasil menjadi juara Asia - PT RIFAN FINANCINDO
Sumber : cnbcindonesia.com
Monday, June 29, 2020
PT Rifan - Harga Emas Semakin Dekati US$1.800, Level Tertinggi sejak 2011
PT RIFAN BANDUNG - Harga emas berjangka semakin mendekati level US$1.800 per troy ounce,
level tertingginya sejak 2011, seiring dengan melonjaknya permintaan
investasi aset aman di tengah kekhawatiran pasar atas meningkatnya
jumlah infeksi Covid-19.
Dalam publikasi riset Universitas Johns
Hopkins, emas batangan menuju kuartal terbaiknya sejak 2016 seiring
dengan jumlah kematian dari pandemi Covid-19 telah mencapai 500.000 jiwa
di seluruh dunia, sedangkan kasus terkonfirmasi sudah melebihi 10 juta
jiwa, meningkatnya angka itu adalah pengingat mengerikan bahwa
pandemi paling mematikan di era modern ini lebih kuat daripada yang
diperkirakan sebelumnya
Senada, Analis Sumber Daya MineLife Pty Gavin Wendt mengatakan bahwa
harga emas mendapatkan manfaat dari meningkatnya kekhawatiran pasar yang
berkembang terkait Covid-19 yang dianggap telah diremehkan oleh banyak
negara.
Emas juga mendapatkan manfaat dari triliunan dolar
stimulus yang akan digelontorkan oleh The Fed dan Pemerintah AS. Selain
itu, proyeksi tingkat suku bunga acuan AS di area negatif juga menjadi
pemicu. Dua sentimen ini akan mendorong emas ke rekor tertinggi.
Untuk diketahui, Ketua
Federal Reserve Jerome Powell dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin
dijadwalkan untuk bersaksi di depan Komite Jasa Keuangan House pada
Selasa. Jika komentar kedua pejabat AS itu bernada dovis,
akan menjadi tenaga tambahan emas untuk reli.
Selain itu, laporan data pekerjaan AS untuk periode Juni pada rilis
Kamis (2/7/2020) juga akan menjadi sentimen penggerak emas pada pekan
ini, pada perdagangan Senin hingga pukul 10.15 WIB harga emas berjangka untuk kontrak
Agustus 2020 di bursa Comex bergerak menguat 0,24 persen ke level
US$1.784,6 per troy ounce.
Pada pertengahan perdagangan, emas
sempat menyentuh level US$1.789 per troy ounce dan terus menguji level
US$1.800 per troy ounce, level yang belum disentuhnya kembali sejak
2011, pada September 2011, emas sempat menyentuh level tertingginya sepanjang sejarah di level US$1.923,7 per troy ounce.
Di
sisi lain dalam perdagangan yang sama, harga emas di pasar spot
bergerak menguat tipis 0,04 persen ke level US$1.772 per troy ounce, harga
emas telah menguat hingga 17 persen sepanjang tahun berjalan 2020
didukung investor yang berbondong-bondong memburu emas karena
ketidakpastian yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19.
Bahkan, Goldman Sachs memprediksi emas akan mencapai level US$2.000 per troy ounce dalam 12 bulan ke depan, sementara
itu, Tim riset Monex Investindo Futures menilai dalam jangka pendek
harga emas di pasar spot berpeluang menguji level support US$1.768
selama harga tidak mampu menembus level US$1.778 per troy ounce.
Penurunan
lebih lanjut dari level itu berpeluang menekan harga emas menguji level
support selanjutnya di US$1.764 hingga US$1.760 per troy ounce.
Namun,
harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan menguji resisten US$1.778
karena dipicu kekhawatiran pasar terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Penembusan level itu berpeluang menopang kenaikan harga emas menguji
level resisten di US$1.785 dan US$1.788 per troy ounce - PT RIFAN
Sumber : bisnis.com
Friday, June 26, 2020
Rifan Financindo Berjangka - Tembus US$1.784, Harga Emas Kian Dekati Rekor
RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas
kian mendekati rekor tertinggi yang tercipta pada 2012 lalu setelah
menyentuh US$1.784 per troy ounce. Harga emas tertinggi tercatat pada 14
April 2012 sebesar US$1.790 per troy ounce.
Hingga Selasa pukul 15.19 Waktu New York atau Rabu 02.19 WIB, harga emas Comex untuk kontrak Agustus 2020
menembus level US$1.784 per troy ounce, naik 1,01 persen dari penutupan
sebelumnya di posisi US$1.766,4.
Sementara
itu, harga emas di pasar spot juga menguat 0,82 persen ke posisi
US$1.768,92 per troy ounce. Harga emas baik berjangka maupun di pasar
spot telah naik lebih dari 13 persen dalam periode tahun berjalan.
Kenaikan harga emas hingga mendekati
rekor tertinggi terjadi sejak dua hari lalu. Ketidakpastian meningkat
menyusul kekhawatiran atas gelombang kedua infeksi virus corona dan
meningkatnya ketidakpastian di Hong Kong setelah China merilis rincian
undang-undang keamanan nasional.
Harga
menguat ketika kasus virus corona di sejumlah negara bagian AS
melonjak, sementara tingkat infeksi di Jerman naik, dan negara bagian
terpadat kedua di Australia, Victoria, memperketat kontrol menyusul
lonjakan kasus.
Sementara
itu, China mengkonfirmasi usulan undang-undang keamanan nasional yang
memungkinkan Beijing untuk mengesampingkan sistem hukum Hong Kong.
Keputusan ini diperkirakan menambah ketegangan antara China dengan AS.
Goldman Sachs Group Inc.
memperkirakan harga emas akan menyentuh US$2.000 per troy ounce.
Sementara itu, JPMorgan Chase & Co. mengimbau investor untuk
mempertahankan kepemilikan emas karena menjadi instrumen paling
berpengaruh pada iklim dengan imbal hasil riil rendah.
Pasar
bersikap optimis akhir-akhir ini, mengabaikan data dan arus berita yang
buruk dan bertaruh pada pemulihan yang kuat, tetapi satu hal yang pasar
tidak dapat abaikan adalah perlambatan ekonomi dan ancaman lockdown kedua, kata ahli strategi riset di Pepperstone Ltd, Sean MacLean.
Fawad
Razaqzada, analis pasar di ThinkMarkets di London mengatakan penguatan
harga emas juga ditopang stimulus yang membanjiri pasar keuangan.
Langkah Bank of England menambah program pembelian obligasi pekan lalu
dan sinyal suku bunga rendah oleh Federal Reserve menjadi pengungkit
kenaikan harga emas.
Peningkatan
jumlah stimulus moneter cenderung mendukung emas tanpa imbal hasil
sebagai lindung nilai terhadap penurunan suku bunga," ujarnya.
Analis
Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan secara teknikal harga emas
masih akan cenderung naik selama harga masih bergerak di atas level
indikator moving average 50-100-200. Jika harga bergerak naik, area 1762 akan menjadi level resisten terdekat, jika
menembus ke atas dari zona tersebut, emas berpotensi memicu kenaikan
lanjutan ke 1.770 sebelum mengincar resisten kuat di 1.785 - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
Sumber : bisnis.com
Thursday, June 25, 2020
Rifan Financindo - Bursa AS Tumbang Di Antara Kasus Baru Covid-19 Dan Tensi AS-Uni Eropa
RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Bursa saham Amerika Serikat
anjlok lebih dari 2 persen pada akhir perdagangan Rabu, di
tengah kekhawatiran soal lonjakan kasus baru Covid-19 dan bangkitnya
tensi dagang AS-Uni Eropa. indeks S&P 500
berakhir terjerembap 2,59 persen atau 80,96 poin ke level 3.050,33,
mematahkan kenaikan yang mampu dibukukan dua hari perdagangan
berturut-turut sebelumnya.
Sejalan dengan S&P, indeks Dow
Jones Industrial Average jeblok 2,72 persen atau 710,16 poin ke level
25.445,94 dan indeks Nasdaq Composite ditutup merosot 2,19 persen atau
222,20 poin ke posisi 9.909,17.
Seluruh 11 sektor dalam S&P 500 tenggelam setidaknya 0,9 persen,
dengan saham sektor energi, finansial dan industri turun lebih dari 3
persen setelah data menunjukkan Florida dan California mencatat rekor
angka kasus baru Covid-19 secara harian.
Sementara itu, Houston mengatakan tempat tidur di unit perawatan intensifnya mencapai kapasitas 97 persen, saham
perusahaan travel dan lainnya yang telah naik di tengah optimisme
pembukaan kembali (reopening) terpukul ketika New York, New Jersey, dan
Connecticut mengharuskan pendatang dari sejumlah hot spot Covid-19 untuk
melakukan karantina mandiri.
Bahkan indeks Nasdaq Composite yang mampu mencetak rekor baru pada
perdagangan Selasa (24/6/2020) akhirnya tumbang, untuk pertama kalinya
dalam sembilan sesi perdagangan.
“Ketika kita melihat kasus-kasus
ini terus menyebar, kita melihat kontraksi mikro di negara-negara bagian
tersebut,” ujar Presiden dan CEO Creative Planning Peter Mallouk.
“Pasar pada dasarnya melihat ke
depan dan berkata 'Momentumnya tampak kembali dan tidak ada yang
mengindikasi jalan untuk memperlambat momentum itu',” tambahnya.
Sentimen
pasar dengan cepat berubah menjadi lebih negatif karena kekhawatiran
bahwa penyebaran baru Covid-19 dapat memaksa para pembuat kebijakan
untuk memperlambat langkah mereka atau bahkan memutarbalik rencana
reopening ekonomi.
Pada saat yang sama, potensi ketegangan perdagangan muncul kembali antara Uni Eropa dan AS. Gedung Putih tengah mempertimbangkan tarif baru pada ekspor senilai US$3,1 miliar dari Prancis, Jerman, Spanyol, dan Inggris.
Perwakilan
Perdagangan Amerika ingin mengenakan tarif baru pada ekspor Eropa
seperti zaitun, bir, gin, dan truk, sementara meningkatkan bea pada
produk-produk seperti pesawat, keju dan yogurt, menurut pemberitahuan
yang dipublikasikan pada Selasa malam waktu setempat.
Di
sisi lain, Uni Eropa juga memperdebatkan mengenai apakah akan tetap
menutup akses untuk pelancong dari Amerika musim panas ini.
Sementara itu, Dana Moneter Internasional
(IMF) menurunkan prospek untuk ekonomi global, dengan memproyeksikan
resesi yang jauh lebih dalam dan pemulihan yang lebih lambat daripada
yang diantisipasi hanya dua bulan lalu - RIFAN FINANCINDO
Sumber : marketbisnis.com
Wednesday, June 24, 2020
PT Rifan Financindo Berjangka - Harga Emas Naik Didorong Kekhawatiran Lonjakan Kasus Covid-19 & Kebijakan Stimulus
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas naik tingkat tertinggi naik pada tahun Rabu petang.
Tren pembelian logam kuning ini dipicu untuk membeli aset aman dan aman
untuk digunakan sebagai pengganti kasus baru covid-19 dan harapan
langkah-langkah stimulus lanjutan untuk mendapatkan dorongan ekonomi.
Sampai pukul 14.56 WIB, harga Emas Berjangka naik 0,24% ke $ 1,786,35 per ons dan emas spot XAU / USD sedikit menguat 0,06% di $ 1,769,38 menurut data Investing.com.
Mengutip laporan Pengendalian Uang dari Reuters Rabu petang,
bank-bank sentral di seluruh dunia telah menerima langkah-langkah
stimulus yang dipercepat dan mempertahankan suku bunga yang rendah
disertai dengan mendorong harga emas melonjak lebih dari 16% tahun ini. Hal ini terjadi karena logam mulia dilihat sebagai aset lindung nilai terhadap konversi dan penurunan nilai mata uang
Menteri Keuangan
Amerika Serikat Steven Mnuchin mengatakan RUU stimulus lanjutan akan
fokus untuk meningkatkan warga AS kembali bekerja dan ia juga akan
membahas melampaui batas waktu pengajuan pajak.
Beberapa negara bagian AS melaporkan bulat jumlah infeksi Covid-19 dan
angka kematian di Amerika Latin melewati 100.000 pada Selasa kemarin,
menurut catatan laporan.
The New York Times melaporkan Uni Eropa akan mengeluarkan pengunjung asal Amerika Serikat yang menerbitkan wilayahnya karena lonjakan kasus di negara itu. Pemerintah Eropa juga mengambil tindakan yang sama untuk warga asal Brasil dan Rusia - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
Sumber : investing.com
Tuesday, June 23, 2020
PT Rifan Financindo - Cek Mana Yang Lebih Cuan, Saham, Obligasi Atau Emas
PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Aktivitas perekonomian mulai kembali bangkit perlahan seiring dengan
mulai diterapkannya tatanan normal baru sejak awal Juni ini. Hal ini
terlihat dari mulai kembalinya para pemodal memborong instrumen
investasi.
Terlihat, hampir di semua instrumen investasi sejak awal bulan ini
(month to date) secara tren imbal hasil menunjukkan kinerja positif.
Meski ketiga instrumen yang bisa anda pilih, baik saham, obligasi maupun
emas memiliki karakteristik dan risikonya masing-masing.
Pertama, untuk pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
menguat 7,94% dalam sebulan terakhir. Optimisme pasar akan kembali
pulihnya ekonomi ditandai dengan masih cukup derasnya aksi beli bersih
oleh investor. Meski jika dilihat sejak awal tahun, IHSG masih cukup
tertekan 22,06%.
Para analis meyakini di era tatanan normal baru, ada sejumlah saham yang
masih berpeluang untuk tumbuh antara lain di sektor telekomunikasi,
menara telekomunikasi dan konsumer.
Lantas, bagaimana dengan obligasi pemerintah? Mengacu data Penilai
Harga Efek Indonesia (PHEI), hingga 19 Juni 2020 imbal hasilnya masih
cukup menarik, rata-rata, untuk obligasi pemerintah dengan tenor 5 tahun imbal
hasilnya sekitar 6,63%. Untuk tenor selama 10 dan 15 tahun masing-masing
sebesar 7,15% dan 7,62%.
Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset
Manajemen Indonesia (MAMI) berpendapat, pasar obligasi Indonesia
diproyeksi memberikan peluang investasi yang menarik hingga akhir tahun
2020.
Penguatan akan didukung oleh rendahnya suku bunga global dan
domestik, stabilitas nilai tukar Rupiah, kondisi kepemilikan investor
asing yang sudah sangat rendah, dan fakta bahwa imbal hasil yang
ditawarkan obligasi domestik masih sangat menarik, target imbal hasil sampai akhir tahun diperkirakan mencapai kisaran
6,5% - 7,0% - PT RIFAN FINANCINDO
Sumber : cnbcindonesia.com
Monday, June 22, 2020
PT Rifan - Emas Diramal Capai US$2.000/TOZ
PT RIFAN BANDUNG - Analis bank investasi asal Amerika Serikat (AS) Goldman Sachs memproyeksikan harga emas dunia masih akan melanjutkan reli kenaikan hingga akhir tahun ini di tengah kekhawatiran terjadinya penurunan nilai (debasement) emas dan melemahnya kurs dolar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia.
Harga logam mulia diperdagangkan di atas level US$ 1.736/troy ons pada Jumat sore waktu Eropa, naik sekitar 0,8%. Data Kitco mencatat, pada perdagangan Jumat tadi malam pukul 22.40 WIB, harga emas spot diperdagangkan di level US$ 1.747/troy ons.
Harga emas juga mulai stabil dalam 2 bulan terakhir karena ada harapan pandemi Covid-19 dapat ditahan sehingga menurunkan risiko penyebaran yang sudah terjadi sejak Maret lalu.
Dalam sebuah catatan pada Jumat, analis Goldman Sachs yakni Jeff Currie, Mikhail Sprogis, dan Daniel Sharp memperbaharui perkiraan harga emas dunia untuk periode 3, 6 dan 12 bulan ke depan masing-masing menjadi US$ 1.800/1.900/2.000/troy ons dari prediksi sebelumnya US$ 1.600/1.650/1.800/troy ons.
Bank investasi yang didirikan di New York pada 1869 ini juga mempertahankan rekomendasi perdagangan emas dalam jangka panjang hingga Desember 2020.
Tiga analis Goldman ini, dalam ulasannya menilai ada sejumlah sentimen positif bagi harga emas yakni permintaan koin emas secara tahun berjalan (year to date) sudah naik 30%, total berat emas yang menjadi aset dasar (underlying) dalam ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa, exchange traded fund) juga naik 20% secara tahun ke tahun (yera on year) dan ada permintaan emas secara laten bertambah.
Namun, memang ada tekanan, yakni peningkatan sentimen risiko di pasar negara maju karena negara-negara dengan ekonomi besar mulai mencabut status lockdown (karantina wilayah) mereka.
Di sisi lain, pasar negara berkembang kemungkinan butuh waktu lebih lama untuk pulih, yang dapat menyebabkan ekspektasi adanya koreksi harga emas.
Namun, seperti yang telah kami utarakan sebelumnya, permintaan investasi emas cenderung tumbuh ke tahap awal pemulihan ekonomi, didorong oleh kekhawatiran penurunan nilai dan tingkat riil yang lebih rendah.
Pada perdagangan Sabtu ini, harga emas logam mulia acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) akan jadi perhatian ke level berapa. Jumat kemarin (19/6/2020), harga emas turun 0,59% atau sebesar Rp 5.000 menjadi Rp 837.120/gram dari perdagangan Rabu di level Rp 842.120/gram.
Berdasarkan pencatatan data harga Logam Mulia di gerai Jakarta Gedung Antam di situs logammulia milik Antam, harga tiap gram emas Antam ukuran 100 gram turun 0,59% berada di Rp 83,712 juta dari harga kemarin Rp 84,212 juta per batang.
Emas Antam kepingan 100 gram lumrah dijadikan acuan transaksi emas secara umum, tidak hanya emas Antam. Harga emas Antam di gerai penjualan lain bisa berbeda, di sisi lain, harga beli kembali (buyback) emas Antam juga turun Rp 6.000 dan ditetapkan pada Rp 784.000/gram, dari posisi kemarin Rp 790.000/gram. Harga itu menunjukkan harga beli yang harus dibayar Antam jika pemilik batang emas bersertifikat ingin menjual kembali investasi tersebut - PT RIFAN
Sumber : cnbcindonesia.com
Subscribe to:
Comments (Atom)




